Aku termenung sendiri menatap matahari yang lelah. Cahayanya yang keemasan memantul di kolong langit. Ketenangannya tak mampu lagi mengusir sembilu yang terus melukai hatiku. Kembali melintas semua perih. Ahh. . bendungan ini akhirnya roboh juga. Aku memejamkan mata dalam-dalam, mencoba menahan perih yang kian meradang, berharap segera surut air mata ini.
“Nangis kok jadi hobi.”
Aku membuka mata, meski terlihat buram aku masih bisa mengenali sosok itu, Awan. Segera ku hapus sisa tanda kesedihan dan mencoba tersenyum, meski terasa aneh. Awan hanya menatapku datar sambil meletakkan tas ranselnya di atas meja, kemudian menghela nafas panjang dan mengeluarkan komik Conan. Saat khidmat membaca kacamatanya memantulkan cahaya matahari yang tenang.
“Kenapa kamu tak pernah mau berdamai dengan keadaan?” tanyanya mengumbar sepi. Pertanyaan macam apa itu.
“Aku... aku..”
“Aku bisa menebak apa yang terjadi, tanpa kamu katakan pun aku bisa tahu apa yang terjadi.” Katanya beruntun.
“Akhirnya ayahmu memutuskan untuk pergi kan? Meninggalkanmu dan ibumu demi wanita lain, ya kan?”
“Cukup Awan.. cukup..” mataku mulai memanas lagi. Aku mulai menyesal mengajaknya bertemu hari ini.
“Itu kenyataan, Me. Air mata nggak akan bisa mengubah kenyataan itu. Benar kan apa yang aku katakan?.”
“Ya. Benar! Nggak ada yang salah. Tapi sepertinya aku bertemu orang yang salah.” Aku berdiri dan tangisku mulai pecah, tega sekali dia berkata seperti itu. Ku ambil tasku dan berbalik. Tapi langkahku terhenti saat Awan menahan lenganku.
“Ma..maaf.” Katanya mencoba menahanku. Setelah sadar apa yang dia lakukan, Awan segera melepaskan tangannya.
“Aku cuma terbawa emosi, tak semestinya kamu menangis karena laki-laki itu.” Nada bicaranya mulai melunak. Akupun terduduk kembali. Apa yang dikatakan Awan memang benar. Sebanyak apapun aku meneteskan air mata tidak akan mengubah kenyataan bahwa Ayah lebih memilih wanita lain daripada Ibu.
“Sekarang aku sadar, Allahlah satu-satunya di dunia ini yang tidak perlu berkompromi untuk memutuskan sesuatu.” Air mataku kembali menetes membasahi ujung jilbabku.
“Kompromi itu selalu ada kok.”
Aku mengerutkan dahi. “Bukankah Allah tidak perlu berdiskusi denganku untuk menentukan masa yang akan datang?”
“Kamu tahu kenapa ada doa?” Awan balik bertanya.
Aku tak bergeming.
“Karena lewat doa itulah kita diberi kesempatan untuk berkompromi dengan Allah. Tapi kadang kita masih berkompromi untuk sekedar berdoa.”
“Tapi sekeras apapun kita berkompromi, keputusan akhir tetap di tanganNYA kan?”
“Itulah mengapa kita harus pandai-pandai mengenali hikmah. Agar setiap takdirnya tak dinilai sebagai ketidakadilan, dan menjadi alasan untuk ditangisi.”
Aku masih tak bergeming dan mencermati tiap kata yang diucapkannya.
“Pada kenyataannya Tuhanlah Yang Maha Adil, namun kadang kita tak mau belajar membaca keadilan yang sedang diberikan pada kita.”
Kata-katanya membuat hatiku gerimis.
“Me, tak selamanya kita mendapatkan yang kita sukai, maka kita harus belajar untuk menyukai apa yang sudah kita dapatkan.” Awan tersenyum diakhir kalimatnya. Akupun ikut tersenyum dan menangis haru dibuatnya. Aku sadar, pasti ada sesuatu yang indah dibalik semua duka ini.
>>>
Aku melihat tubuh itu meringkuk sepi di kursi beranda. Pandangannya kosong menghadap bunga warna-warni di sudut pagar. Sosok itu tak menyadari kehadiranku sampai aku menutup kembali pagar berwarna hijau pucat itu.
“Assalamualaikum..”
Sosok sepi itu menoleh dan kemudian beranjak dari duduknya sambil tersenyum simpul ke arahku.
“Waalaikumussalam, kenapa baru pulang, Me?” Kata sosok yang sudah membesarkanku selama 17 tahun itu sambil mengulurkan tangannya.
“Tadi ngobrol sama temen sebentar, Bu.” Aku menatap mata layu itu, sepertinya Ibu habis menangis.
“Me.. maafkan Ibu. Ibu nggak bisa...” Suaranya bergetar tertahan.
Aku memeluk tubuhnya, mencoba membagi sisa kekuatan. “Sudah Bu.. sudah...”
“Semuanya sudah terjadi, Bu. Ayah bisa bahagia tanpa kita jadi kenapa kita tidak bisa bahagia tanpanya?” Kini aku bisa menyebutnya tanpa ada air mata lagi. Ibu melepaskan pelukanku, menatapku haru kemudian kembali memeluk dan mengusap jilbabku.
“Ayo masuk. Kamu belum shalat kan?
“Belum, Bu.”
Kemudian Ibu membimbingku masuk ke dalam rumah,
“Ketemu sama siapa? Wawan ya?”
“Awan, Bu.” Wajahku terasa hangat menyebut namanya.
“Oh, iya. Awan. Kapan kamu mengajaknya kemari?”
“Ibu.. apaan, sich.” Aku semakin malu.
“Ya ibu kan jadi penasaran.” Goda Ibu semakin menjadi-jadi.
“Ah.. ibu..” aku berlari menjauhi Ibu yang sudah siap untuk menggodaku lagi. Menutup kamarku dan bersandar di balik pintu.
“Ibu kan bercanda. Jangan lupa shalat.” Ucap ibu yang samar terdengar dari sini.
Kembali aku melihat hatiku. Kembali mengingat perasaan yang ku sembunyikan dalam-dalam di relung hati. Perasaan yang membuncah tiap kali dia memperlakukanku istimewa. Sebenarnya dia menganggapku apa...?
>>>>
“Kenapa tidak kamu tanyakan langsung ke orangnya?” Respon Senja setelah aku selesai cerita.
“Gila apa?! Mana ada bunga yang menghampiri kumbang?” Balasku sekenanya.
“Sekarang kan zamannya emansipasi, siapa tahu sekarang bunga mengalami modifikasi dan bisa berjalan menghampiri kumbang?” Senja tertawa, terlihat begitu senang dia menggodaku.
“Entahlah, aku nyaman dengannya seperti ini. Lagipula kita sudah sahabatan mulai kecil, aku takut perasaan ini merusak semuanya. Aku nggak mau itu terjadi.”
“Mega..Mega.. kamu sendiri kan yang bilang kalau Awan itu monster salju. Ya pasti dia bakalan cuek-cuek donk. Percaya deh...”
“Tapi.. rasanya aku masih takut menggantung harap pada yang namanya laki-laki..”
“Cukup..cukup..” Senja memotong kalimatku. “Nggak semua laki-laki seperti Ayah kamu, ok?! Buktinya my Daddy masih setia sama my Mom. Jadi buang jauh-jauh deh ya pikiran itu.”
“Lagi pula sampai kapan kamu mau menutup hati?”
“Aku nggak mau pacaran dulu, Senja.”
“Ya..ya aku tahu. Tapi apa salahnya memastikan perasaannya?”
“.....” aku terdiam.
“Me...!”
Aku segera menoleh ke arah sumber suara. Awan sudah berdiri di ambang pintu kelasku.
“Monstermu datang.” Senja kembali menggodaku. Aku mencubit pinggangnya sampai meringis kesakitan.
“Ada apa?” kataku setelah tiba di hadapannya.
“Sepertinya dalam minggu-minggu ini kita bakal jarang ketemu, aku sibuk latihan bola.” Katanya pelan, aku hampir tidak bisa mendengarnya.
“Kamu cuma mau ngomong itu?” jawabku refleks.
Air muka Awan kelihatan berubah, monster salju mode on. Apa ada yang salah dengan ucapanku?
“Ekspresimu gamblang, selalu bisa ku tangkap tapi kenapa kamu tak permah mengerti bahasaku?”
“Apa?”
“Sudahlah. Ini ada titipan dari temanku.” Awan menyerahkan sebuah lipatan kertas ke arahku sebelum melangkah pergi. Aku menatap kertas berwarna putih itu sejenak, sebelum sempat kutanyakan siapa temannya itu Awan sudah lenyap dari pandanganku.
>>>>>
Semburat cahaya matahari memantul di sudut senja yang tenang. Memberikan warna orange yang indah. Aku masih terduduk di kursi beranda, memainkan kertas yang diberikan Awan siang tadi. Aku buka lipatannya dan membaca ulang isinya.
Seberapa dalam lagi rasa ini harus bersembunyi..
Meyembunyikan indahnya dalam diam dan dinginnya hening..
Biarkan semua sepi yang menjawab..
Tak ingin nodai cinta kepadaNYA..
Tak ingin semua berbunga sebelum waktunya..
Bukan.. bukan cinta yang salah..
Mungkin waktu yang tak tepat waktu..
Biarlah senyum yang mewakili semua..
Biarlah cinta dalam diam dan hening..
Sampai waktu menjemputnya untuk menunjukkan indahnya...
Itulah isi surat itu. Diketik rapih jadi aku tak bisa mengenali tulisannya dan menebak pengirimnya. Seandainya itu surat dari Awan. Hemm.. tapi rasanya tak mungkin.
“Wah.. anak perempuan Ibu dapat surat cinta, nih”
Refleks aku menoleh ke belakang dan ibu sudah bersandar di ambang pintu. Belum sempat aku mengamankan surat itu Ibu sudah berhasil merebutnya dari tanganku.
“Ibu.. kembalikan..” Rengekku yang menyerah merebut surat itu kembali dari Ibu. Ibu terlihat membaca surat itu dan tersenyum sendiri.
“Wah.. dari Awan, yah?” Baru kali ini ibu benar menyebut namanya.
“Bukan, Bu.” Aku kembali duduk.
“Lho, lalu?” Ibu terlihat respect dan duduk di kursi sebelahku, setia menanti jawabanku.
Aku menghembuskan nafas berat. “Entahlah...”
“Hem.. dari penggemar rahasia kelihatannya. Ternyata anak ibu laku juga.”
“Ihh.. ibu, apaan sih..”
Aku berusaha mengambil kertas itu kembali, kali ini ibu tidak melakukan perlawanan.
“Pasti Me berharap Awan yang jadi pengirimnya?”
Aku diam tak memberikan respon apa-apa, bisa jadi panjang nanti urusannya.
“Ya sudah... jangan sendu gitu. Besok ibu ada urusan di Kantor desa. Pulangnya mungkin agak sore.”
>>>>>>
Aku senang Ibu tak lagi menutup diri dan aktif memberikan materi pada ibu-ibu PKK di kantor desa. Hal yang tak bisa dilakukannya dulu saat masih bersama Ayah karena selalu mendapat larangan. Yah.. mungkin ini hikmahnya, kini ibu sering diundang untuk memberikan materi di forum-forum diskusi wanita dan menjadi pembicara tetap di radio wanita kota ini. Memberikan motivasi dan masukan pada para single parent.
Banyak yang ingin ku bicarakan pada Awan namun aku jarang menemuinya belakangan ini. Terakhir melihatnya dia kan bilang kalau minggu-minggu ini jarang bisa bertemu. Hemm.. apa ini yang dinamakan kangen?. Aku menendang kerikil yang menghalangi jalanku. Angin kering mengibarkan rok panjangku. Mobil-mobil berlarian mengejar tujuannya. Dari kejauhan aku bisa melihat punggung yang sudah tak asing lagi bagi mataku, ya.. itu Awan. Tapi .. siapa gadis yang berjalan bersamanya? Katanya sibuk latihan bola, tapi..
>>>>>>>
“Lusa datang ya.” Awan menyodorkan tiket pertandingan final sepakbola.
“Mmm.. aku ada urusan.” Aku berusaha menghindari tatapannya.
“Urusan apa?” Burunya.
“Kamu tak perlu tahu.” Ucapku dingin dan pergi meninggalkannya yang aku yakini masih menatap punggungku.
>>>>>>>
Aku mengutuk perasaan ini. Kenapa sekarang terasa menyiksa? Kenapa hanya aku yang mempunyai perasaan ini?. belum lagi pengirim surat yang misterius itu.. aaarrgghhh..
“Mega... Mega...” Senja berlari-lari menghampiriku yang menyepi di sudut kelas. Aku tidak bisa mengartikan ekspresi wajahnya, kaget, bingung, kacau.. entahlah.
“Awan.. Awan.”
“Awan? Kenapa?” aku mencoba menenangkan Senja.
Hatiku seakan dihantam gada mendengar apa yang dikatakan Senja.
>>>>>>>
Aku berlari memasuki pagar rumah yang sudah dipenuhi wajah-wajah sembab nan muram. Aku benci suasana seperti ini. saat aku berhasil memasuki ruang tengah, di sana banyak orang-orang duduk mengitari sebuah ranjang yang aku sudah bisa menebak apa yang ada di atasnya meski ditutupi berlapis-lapis kain. Bendungan mulai tercipta di pelupuk mataku.
Aku mengedarkan pandanganku mencari seseorang yang sangat ku rindu. Akhirnya aku menemukannya. Mematung di sudut ruangan dengan tatapan kosong. Matanya memantukan kesedihan yang amat sangat.
“Awan..”
Awan menoleh lemah ke arahku. Kemudian tertunduk.
Tak banyak kata yang keluar dari bibirnya sepanjang prosesi pemakaman orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Ibunya telah dipanggil kembali untuk menempati tempat terindah di sisiNYA. Sampai tanah itu menggunung Awan masih sepi, dia juga tak menangis. Aku masih menungguinya termenung menatap gundukan itu. Semua pelayat sudah meninggalkan kompleks pemakaman ini.
“Ibu belum melihat piala yang akan ku menangkan besok. Ibu ingin sekali melihat ku memakai seragam Timnas... ibu.. ibu..” suaranya tercekat. Tangannya bergetar menggenggam bung-bunga yang bertaburan di pusara itu. Air mata mulai menetes membasahi punggung tangannya. Akupun tak mampu lagi menahan air mata. Larut bersama penyesalan yang belum saatnya tiba karena waktu setia berjalan pada rotasinya. Gerimispun turut menyempurnakan kepedihan ini. Wangi melati menutup sore yang muram ini
>>>>>>>>
Awan tersenyum ke arahku sambil memamerkan Piala emas yang didapatnya. Bergelar pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak membuatnya mendapatkan kesempatan untuk masuk timnas U-23 dan beasiswa di perguruan tinggi di Jakarta.
“Aku ingin memamerkan piala ini pada Ibu.” Mendung kembali melintas di wajahnya.
“Pasti di sana ibumu sedang tersenyum bangga.” Kataku mencoba membesarkan hatinya. “Eh, mana kacamatamu?”
“Kacamata? Itu kan cuma ornamen.”
“Ornamen?”
“Ya. Supaya kamu tertarik padaku.”
“Ya. Supaya kamu tertarik padaku.”
“Apa?” aku berusaha memastikan apa yang ku dengar.
“Tak ada siaran ulang.”
“Oya, ada yang mau ku tanyakan padamu.”
“Apa?”
“Siapa pengirim surat yang kamu berikan itu?”
Awan tersenyum “Suatu saat kamu pasti tahu.”
Matahari senja di akhir tahun ajaran tersenyum hangat. Meski tak tahu apakah rasa ini sama aku tetap memutuskan menyimpannya dalam hati dan membingkainya dengan rasa sabar, biarkan Tuhan yang menentukan.
>>>>>>>>>
Aku memang pergi jauh dan tak bisa menemanimu menangis lagi, tapi yakinlah aku tahu setiap kali kamu menangis, jadi jangan sering menangis kalau tak ingin ku ejek dari sini. Oya, kamu pernah bertanya siapa yang mengirim surat itu, jawabannya adalah aku. Aku terlalu pengecut untuk mengakuinya, bahkan aku baru berani mengatakannya sekarang. Berusaha mencintaimu dalam diam dan hening, tapi itu cukup sulit. Kamu tahu kan, meski cengeng tapi cukup banyak yang mengejarmu. Dan jika esok pagi masih menyapa, akan ku cukupkan segenap rinduku hanya untukmu.
Kalau ada kata yang artinya lebih dari cinta, pasti akan ku hadiahkan untukmu. Jadi tunggulah aku.
I’ll always lookback as i walk away..
This memory will last for eternity..
And all of our tears will be lost in the rain..
When i found my way back to your arms again..
But until that day.. you know you are the queen of my heart..*)
Jadi cinta... bersabarlah.
Chears...
Awan
>>>>>>>>>
Aku menemukan surat itu terselip di komik Conan yang Awan titipkan. Jika kita yakin, pasti harap akan berbuah manis. Yakinlah semua yang terjadi dalam hidup ini sudah direncanakan dengan rapi oleh Sang Penguasa Langit.
-end-
mail^^