Sabtu, 10 Maret 2012

Cinta... bersabarlah

Aku termenung sendiri menatap matahari yang lelah. Cahayanya yang  keemasan memantul di kolong langit. Ketenangannya tak mampu lagi  mengusir sembilu yang terus melukai hatiku. Kembali melintas semua perih. Ahh.  . bendungan ini akhirnya roboh juga. Aku memejamkan mata dalam-dalam, mencoba menahan perih yang kian meradang, berharap segera surut air mata ini.
“Nangis kok  jadi hobi.”
Aku membuka mata, meski terlihat buram aku masih bisa mengenali sosok itu, Awan. Segera ku hapus sisa tanda kesedihan dan mencoba tersenyum, meski terasa aneh. Awan hanya menatapku datar sambil meletakkan tas ranselnya di atas meja, kemudian menghela nafas panjang dan mengeluarkan komik Conan. Saat khidmat membaca kacamatanya memantulkan cahaya matahari yang tenang.
“Kenapa kamu tak pernah mau berdamai dengan keadaan?” tanyanya mengumbar sepi. Pertanyaan macam apa itu.
“Aku... aku..”
“Aku bisa menebak apa yang terjadi, tanpa kamu katakan pun aku bisa tahu apa yang terjadi.” Katanya beruntun.
“Akhirnya ayahmu memutuskan untuk pergi kan? Meninggalkanmu dan ibumu demi wanita lain, ya kan?”
“Cukup Awan.. cukup..” mataku mulai memanas lagi. Aku mulai menyesal mengajaknya bertemu hari ini.
“Itu kenyataan, Me. Air mata nggak akan bisa mengubah kenyataan itu. Benar kan apa yang aku katakan?.”
“Ya. Benar! Nggak ada yang salah. Tapi sepertinya aku bertemu orang yang salah.” Aku berdiri dan tangisku mulai pecah, tega sekali dia berkata seperti itu. Ku ambil tasku dan berbalik. Tapi langkahku terhenti saat Awan menahan lenganku.
“Ma..maaf.” Katanya mencoba menahanku. Setelah sadar apa yang dia lakukan, Awan segera melepaskan tangannya.
“Aku cuma terbawa emosi, tak semestinya kamu menangis karena laki-laki itu.” Nada bicaranya mulai melunak. Akupun terduduk kembali. Apa yang dikatakan Awan memang benar. Sebanyak apapun aku meneteskan air mata tidak akan mengubah kenyataan bahwa Ayah lebih memilih wanita lain daripada Ibu.
“Sekarang aku sadar, Allahlah satu-satunya di dunia ini yang tidak perlu berkompromi untuk memutuskan sesuatu.” Air mataku kembali menetes membasahi ujung jilbabku.
“Kompromi itu selalu ada kok.”
Aku mengerutkan dahi. “Bukankah Allah tidak perlu berdiskusi denganku untuk menentukan masa yang akan datang?”
“Kamu tahu kenapa ada doa?” Awan balik bertanya.
Aku tak bergeming.
“Karena lewat doa itulah kita diberi kesempatan untuk berkompromi dengan Allah. Tapi kadang kita masih berkompromi untuk sekedar berdoa.”
“Tapi sekeras apapun kita berkompromi, keputusan akhir tetap di tanganNYA kan?”
“Itulah mengapa kita harus pandai-pandai mengenali hikmah. Agar setiap takdirnya tak dinilai sebagai ketidakadilan, dan menjadi alasan untuk ditangisi.”
Aku masih tak bergeming dan mencermati tiap kata yang diucapkannya.
“Pada kenyataannya Tuhanlah Yang Maha Adil, namun kadang kita tak mau belajar membaca keadilan yang sedang diberikan pada kita.”
Kata-katanya membuat hatiku gerimis.
“Me, tak selamanya kita mendapatkan yang kita sukai, maka kita harus belajar untuk menyukai apa yang sudah kita dapatkan.” Awan tersenyum diakhir kalimatnya. Akupun ikut tersenyum dan menangis haru dibuatnya. Aku sadar, pasti ada sesuatu yang indah dibalik semua duka ini.
>>> 
Aku melihat tubuh itu meringkuk sepi di kursi beranda. Pandangannya kosong menghadap bunga warna-warni di sudut pagar. Sosok itu tak menyadari kehadiranku sampai aku menutup kembali pagar berwarna hijau pucat itu.
“Assalamualaikum..”
Sosok sepi itu menoleh dan kemudian beranjak dari duduknya sambil tersenyum simpul ke arahku.
“Waalaikumussalam, kenapa baru pulang, Me?” Kata sosok yang sudah membesarkanku selama 17 tahun itu sambil mengulurkan tangannya.
“Tadi ngobrol sama temen sebentar, Bu.” Aku menatap mata layu itu, sepertinya Ibu habis menangis.
“Me.. maafkan Ibu. Ibu nggak bisa...” Suaranya bergetar tertahan.
Aku memeluk tubuhnya, mencoba membagi sisa kekuatan. “Sudah Bu.. sudah...”
“Semuanya sudah terjadi, Bu. Ayah bisa bahagia tanpa kita jadi kenapa kita tidak bisa bahagia tanpanya?” Kini aku bisa menyebutnya tanpa ada air mata lagi. Ibu melepaskan pelukanku, menatapku haru kemudian kembali memeluk dan mengusap jilbabku.
“Ayo masuk. Kamu belum shalat kan?
“Belum, Bu.”
Kemudian Ibu membimbingku masuk ke dalam rumah,
“Ketemu sama siapa? Wawan ya?”
“Awan, Bu.” Wajahku terasa hangat menyebut namanya.
“Oh, iya. Awan. Kapan kamu mengajaknya kemari?”
“Ibu.. apaan, sich.” Aku semakin malu.
“Ya ibu kan jadi penasaran.” Goda Ibu semakin menjadi-jadi.
“Ah.. ibu..” aku berlari menjauhi Ibu yang sudah siap untuk menggodaku lagi. Menutup kamarku dan bersandar di balik pintu.
“Ibu kan bercanda. Jangan lupa shalat.” Ucap ibu yang samar terdengar dari sini.
Kembali aku melihat hatiku. Kembali mengingat perasaan yang ku sembunyikan dalam-dalam di relung hati. Perasaan yang membuncah tiap kali dia memperlakukanku istimewa. Sebenarnya dia menganggapku apa...?
>>>> 
“Kenapa tidak kamu tanyakan langsung ke orangnya?” Respon Senja setelah aku selesai cerita.
“Gila apa?! Mana ada bunga yang menghampiri kumbang?” Balasku sekenanya.
“Sekarang kan zamannya emansipasi, siapa tahu sekarang bunga mengalami modifikasi dan bisa berjalan menghampiri kumbang?” Senja tertawa, terlihat begitu senang dia menggodaku.
“Entahlah, aku nyaman dengannya seperti ini. Lagipula  kita sudah sahabatan mulai kecil, aku takut perasaan ini merusak semuanya. Aku nggak mau itu terjadi.”
“Mega..Mega.. kamu sendiri kan yang bilang kalau Awan itu monster salju. Ya pasti dia bakalan cuek-cuek donk. Percaya deh...”
“Tapi.. rasanya aku masih takut menggantung harap pada yang namanya laki-laki..”
“Cukup..cukup..” Senja memotong kalimatku. “Nggak semua laki-laki seperti Ayah kamu, ok?! Buktinya my Daddy masih setia sama my Mom. Jadi buang jauh-jauh deh ya pikiran itu.”
“Lagi pula sampai kapan kamu mau menutup hati?”
“Aku nggak mau pacaran dulu, Senja.”
“Ya..ya aku tahu. Tapi apa salahnya memastikan perasaannya?”
“.....” aku terdiam.
“Me...!”
Aku segera menoleh ke arah sumber suara. Awan sudah berdiri di ambang pintu kelasku.
“Monstermu datang.” Senja kembali menggodaku. Aku mencubit pinggangnya sampai meringis kesakitan.
“Ada apa?” kataku setelah tiba di hadapannya.
“Sepertinya dalam minggu-minggu ini kita bakal jarang ketemu, aku sibuk latihan bola.” Katanya pelan, aku hampir tidak bisa mendengarnya.
“Kamu cuma mau ngomong itu?” jawabku refleks.
Air muka Awan kelihatan berubah, monster salju mode on. Apa ada yang salah dengan ucapanku?
“Ekspresimu gamblang, selalu bisa ku tangkap tapi kenapa kamu tak permah mengerti bahasaku?”
“Apa?”
“Sudahlah. Ini ada titipan dari temanku.” Awan menyerahkan sebuah lipatan kertas ke arahku sebelum melangkah pergi. Aku menatap kertas berwarna putih itu sejenak, sebelum sempat kutanyakan siapa temannya itu Awan sudah lenyap dari pandanganku.
>>>>> 
Semburat cahaya matahari memantul di sudut senja yang tenang. Memberikan warna orange yang indah. Aku masih terduduk di kursi beranda, memainkan kertas yang diberikan Awan siang tadi. Aku buka lipatannya dan membaca ulang isinya.

Seberapa dalam lagi rasa ini harus bersembunyi..
Meyembunyikan indahnya dalam diam dan dinginnya hening..
Biarkan semua sepi yang menjawab..
Tak ingin nodai cinta kepadaNYA..
Tak ingin semua berbunga sebelum waktunya..
Bukan.. bukan cinta yang salah..
Mungkin waktu yang tak tepat waktu..
Biarlah senyum yang mewakili semua..
Biarlah cinta dalam diam dan hening..
Sampai waktu menjemputnya untuk menunjukkan indahnya...
Itulah isi surat itu. Diketik rapih jadi aku tak bisa mengenali tulisannya dan menebak pengirimnya. Seandainya itu surat dari Awan. Hemm.. tapi rasanya tak mungkin.
“Wah.. anak perempuan Ibu dapat surat cinta, nih
Refleks aku menoleh ke belakang dan ibu sudah bersandar di ambang pintu. Belum sempat aku mengamankan surat itu Ibu sudah berhasil merebutnya dari tanganku.
“Ibu.. kembalikan..” Rengekku yang menyerah merebut surat itu kembali dari Ibu. Ibu terlihat membaca surat itu dan tersenyum sendiri.
“Wah.. dari Awan, yah?” Baru kali ini ibu benar menyebut namanya.
“Bukan, Bu.” Aku kembali duduk.
Lho, lalu?” Ibu terlihat respect dan duduk di kursi sebelahku, setia menanti jawabanku.
Aku menghembuskan nafas berat. “Entahlah...”
“Hem.. dari penggemar rahasia kelihatannya. Ternyata anak ibu laku juga.”
“Ihh.. ibu, apaan sih..”
Aku berusaha mengambil kertas itu kembali, kali ini ibu tidak melakukan perlawanan.
“Pasti Me berharap Awan yang jadi pengirimnya?”
Aku diam tak memberikan respon apa-apa, bisa jadi panjang nanti urusannya.
“Ya sudah... jangan sendu gitu. Besok ibu ada urusan di Kantor desa. Pulangnya mungkin agak sore.”
>>>>>> 
Aku senang Ibu tak lagi menutup diri dan aktif memberikan materi pada ibu-ibu PKK di kantor desa. Hal yang tak bisa dilakukannya dulu saat masih bersama Ayah karena selalu mendapat larangan. Yah.. mungkin ini hikmahnya, kini ibu sering diundang untuk memberikan materi di forum-forum diskusi wanita dan menjadi pembicara tetap di radio wanita kota ini. Memberikan motivasi dan masukan pada para single parent.
Banyak yang ingin ku bicarakan pada Awan namun aku jarang menemuinya belakangan ini. Terakhir melihatnya dia kan bilang kalau minggu-minggu ini jarang bisa bertemu. Hemm.. apa ini yang dinamakan kangen?. Aku menendang kerikil yang menghalangi jalanku. Angin kering mengibarkan rok panjangku. Mobil-mobil berlarian mengejar tujuannya. Dari kejauhan aku bisa melihat punggung yang sudah tak asing lagi bagi mataku, ya.. itu Awan. Tapi .. siapa gadis yang berjalan bersamanya? Katanya sibuk latihan bola, tapi..
>>>>>>> 
“Lusa datang ya.” Awan menyodorkan tiket pertandingan final sepakbola.
“Mmm.. aku ada urusan.” Aku berusaha menghindari tatapannya.
“Urusan apa?” Burunya.
“Kamu tak perlu tahu.” Ucapku dingin dan pergi meninggalkannya yang aku yakini masih menatap punggungku.
>>>>>>> 
Aku mengutuk perasaan ini. Kenapa sekarang terasa menyiksa? Kenapa hanya aku yang mempunyai perasaan ini?. belum lagi pengirim surat yang misterius itu.. aaarrgghhh..
“Mega... Mega...” Senja berlari-lari menghampiriku yang menyepi di sudut kelas. Aku tidak bisa mengartikan ekspresi wajahnya, kaget, bingung, kacau.. entahlah.
“Awan.. Awan.”
“Awan? Kenapa?” aku mencoba menenangkan Senja.
Hatiku seakan dihantam gada mendengar apa yang dikatakan Senja.
>>>>>>> 
Aku berlari memasuki pagar rumah yang sudah dipenuhi wajah-wajah sembab nan muram. Aku benci suasana seperti ini. saat aku berhasil memasuki ruang tengah, di sana banyak orang-orang duduk mengitari sebuah ranjang yang aku sudah bisa menebak apa yang ada di atasnya meski ditutupi berlapis-lapis kain. Bendungan mulai tercipta di pelupuk mataku.
Aku mengedarkan pandanganku mencari seseorang yang sangat ku rindu. Akhirnya aku menemukannya. Mematung di sudut ruangan dengan tatapan kosong. Matanya memantukan kesedihan yang amat sangat.
“Awan..”
Awan menoleh lemah ke arahku. Kemudian tertunduk.
Tak banyak kata yang keluar dari bibirnya sepanjang prosesi pemakaman orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Ibunya telah dipanggil kembali untuk menempati tempat terindah di sisiNYA. Sampai tanah itu menggunung Awan masih sepi, dia juga tak menangis. Aku masih menungguinya termenung menatap gundukan itu. Semua pelayat sudah meninggalkan kompleks pemakaman ini.
“Ibu belum melihat piala yang akan ku menangkan besok. Ibu ingin sekali melihat ku memakai seragam Timnas... ibu.. ibu..” suaranya tercekat. Tangannya bergetar menggenggam bung-bunga yang bertaburan di pusara itu. Air mata mulai menetes membasahi punggung tangannya. Akupun tak mampu lagi menahan air mata. Larut bersama penyesalan yang belum saatnya tiba karena waktu setia berjalan pada rotasinya. Gerimispun turut menyempurnakan kepedihan ini. Wangi melati menutup sore yang muram ini
>>>>>>>> 
Awan tersenyum ke arahku sambil memamerkan Piala emas yang didapatnya. Bergelar pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak membuatnya mendapatkan kesempatan untuk masuk timnas U-23 dan beasiswa di perguruan tinggi di Jakarta.
“Aku ingin memamerkan piala ini pada Ibu.” Mendung kembali melintas di wajahnya.
“Pasti di sana ibumu sedang tersenyum bangga.” Kataku mencoba membesarkan hatinya. “Eh, mana kacamatamu?”
“Kacamata? Itu kan cuma ornamen.”
“Ornamen?”
            “Ya. Supaya kamu tertarik padaku.”
“Apa?” aku berusaha memastikan apa yang ku dengar.
“Tak ada siaran ulang.”
“Oya, ada yang mau ku tanyakan padamu.”
“Apa?”
“Siapa pengirim surat yang kamu berikan itu?”
Awan tersenyum “Suatu saat kamu pasti tahu.”
Matahari senja di akhir tahun ajaran tersenyum hangat. Meski tak tahu apakah rasa ini sama aku tetap memutuskan menyimpannya dalam hati dan membingkainya dengan rasa sabar, biarkan Tuhan yang menentukan.
>>>>>>>>> 
Aku memang pergi jauh dan tak bisa menemanimu menangis lagi, tapi yakinlah aku tahu setiap kali kamu menangis, jadi jangan sering menangis kalau tak ingin ku ejek dari sini. Oya, kamu pernah bertanya siapa yang mengirim surat itu, jawabannya adalah aku. Aku terlalu pengecut untuk mengakuinya, bahkan aku baru berani mengatakannya sekarang. Berusaha mencintaimu dalam diam dan hening, tapi itu cukup sulit. Kamu tahu kan, meski cengeng tapi cukup banyak yang mengejarmu. Dan jika esok pagi masih menyapa, akan ku cukupkan segenap rinduku hanya untukmu.
Kalau ada kata yang artinya lebih dari cinta, pasti akan ku hadiahkan untukmu. Jadi tunggulah aku.
I’ll always lookback as i walk away..
This memory will last for eternity..
And all of our tears will be lost in the rain..
When i found my way back to your arms again..
But until that day.. you know you are the queen of my heart..*)

Jadi cinta... bersabarlah.

Chears...
Awan
>>>>>>>>> 
Aku menemukan surat itu terselip di komik Conan yang Awan titipkan. Jika kita yakin, pasti harap akan berbuah manis. Yakinlah semua yang terjadi dalam hidup ini sudah direncanakan dengan rapi oleh Sang Penguasa Langit.
-end-
mail^^

Saat Mimpi Berteman Sabar


Jika mimpi adalah fondasi untuk meraih cita, mungkin fondasi cita-cita Fauzi sudah terlalu tinggi. Setiap hari lebih dari 3 jam ia larut dalam mimpi-mimpi. Harapannya adalah melihat namanya terpampang di media cetak. Impiannya sangat bergemuruh. Memacu ACTH1 merangsang kelenjar adrenal untuk mensekresikan adrenalin yang mampu membuatnya menggila tiap kali berhadapan dengan tuts laptop, mencoba mengeluarkan cerita yang tersesat di rimba otaknya
Yah.. dialah temanku, Fauzi. Seseorang yang benar-benar eksotis dimataku, inspiratif dengan perjuangannya yang begitu gigih. Cita-citanya adalah menjadi seorang cerpenis. Cita-cita yang sangat menyimpang jauh dari jurusan yang ditempuhnya sekarang, FKIP Biologi.
“Dewi ‘dee’ lestari juga bukan lulusan sastra tapi novelnya bolak-balik cetak ulang.” Belanya saat aku meminta pertanggung jawaban dari ambisinya yang sangat kuat.
“Lalu kapan ceritamu bisa dicetak?” tantangku meladeni pembelaannya. Kemudian dia terlihat terpojok kemudian menundukkan pandangannya dan hanya memainkan daun trembesi yang jatuh di atas meja di depan kami.
Kerap Fauzi mengirimkan cerpen-cerpennya, namun tidak ada yang meninggalkan jejak. Semuanya hanya tersimpan rapih dalam draft. Padahal menurutku cerpen-cerpen yang ditulisnya cukup bagus, tidak kalah dengan dengan cerpen-cerpen yang sering ku baca di majalah, hanya saja bahasanya cenderung menggurui.
 ddrrrtt... ddrrrttt... ddrrrttt...” ponsel Fauzi menjerit tertahan, menggeliat di atas meja. Terlihat amplop kuning berkedip-kedip di layarnya. Air mukanya seketika berubah setelah membaca pesan itu.
“Kenapa?” tanyaku
“Gagal lagi.” Jaabnya sendu tanpa melihat ke arahku.
Hem.. anda belum beruntung, coba lagi.” Aku mencoba berseloroh.
“Aku sudah capek, Fer. Aku gagal.”
Heh.. jangan bilang gagal. Anggap saja itu ‘penemuan’.”
Fauzi menarik alisnya hingga hampir bertautan. “Penemuan?”
“Ya, jadikan itu sebuah penemuan, sebuah penemuan ‘cara yang salah’. Bukankah seorang penemu tak pernah langsung berhasil dalam percobaannya? Mereka juga pernah gagal, tapi mereka menganggap kegagalan mereka adalah penemuan ‘cara yang salah’, bukan penemuan ‘kegagalan’.”
Fauzi termenung menatapku.
“Kerasukan jin dari mana kamu sampai bisa berfilsafat seperti itu?” kata Fauzi disusul tawa lepas yang mengguncang kedua bahunya. Ku pikir dia akan melontarkan kata-kata penuh kebanggaan karena  mempunyai sahabat sepertiku yang bisa berpikiran seperti itu.
 ddrrrtt... ddrrrttt... ddrrrttt...” tiba-tiba ponselku bergetar di dalam tas. Sesaat kemudian aku juga melihat Fauzi kembali menatap layar ponselnya.
From: Zul
INFO PENTING dari dekanat: beasiswa bln ini beku. Dana dr pmrintah trhmbat. Sabar ya kawan-kawan... L
Apa?! ya Tuhan.. apa ini?. Aku segera melihat  ke arah Fauzi yang juga terlihat kacau. Sepertinya dia juga mendapat sms yang sama denganku. Kemudian aku membuka ransel dan mencari dompet. Hanya tinggal selembar uang beraksen merah dengan angka satu dan empat angka nol di belakangnya. Aku menatap Fauzi sambil berharap dia punya nominal yang lebih. Ternyata jauh panggang dari api. Tampang Fauzi terlihat konyol dengan selembar uang lima ribu rupiah yang ia jepit diantara telunjuk dan ibu jarinya.
“sekarang tanggal berapa?”
mmm.. tanggal tu..juh, Fer.” Jawab Fauzi sanksi.
“tujuh, sekarang bulan januari, berarti...” aku diam sejenak berusaha membayangkan angka-angka.
“dua puluh tiga hari ke depan kita makan apa?” kataku panik
“salah, dodol. Tiga puluh satu dikurangi tujuh itu ada dua puluh empat.” Koreksi Fauzi sambil menyangga kepalanya.
hah..?!” aku hanya bisa menepuk keningku, mencoba menerawang apa yang bisa kami lakukan dengan uang lima belas ribu rupiah selama dua puluh empat hari.
Mataharipun menutup hari yang lelah dengan senyum penuh kebanggaan.
>>> 
Siang ini matahari terasa begitu dekat dengan bumi. Inikah yang disebut titik terdekat bumi dengan matahari seperti yang dijelaskan Pak Nyoto di akhir perkuliahan tadi? Entahlah.
“Miris. Beasiswa tak turun. Uang tak ada.” Ucapku sambil menghapus peluh yang mulai membasahi baju biruku.
“Yang penting masih diberi kesempatan hidup.” Kata Fauzi yang berada beberapa langkah di depanku sambil menghindari sengatan matahari. Dari kejauhan pantulan sinarnya menerpa badan-badan besi yang berlarian. Aspal jalanan itu terlihat berkeringat. Angin siang yang kering sesekali menggoyang dedaunan, sedikit mengusir panas tubuh.
“Malang sekali nasib kita. Mau minta kiriman dari orang rumah, tapi...” langkahku terhenti saat aku hampir menubruk Fauzi yang tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadapku.
“Masih banyak yang tidak beruntung dari kita, jangan memandang keputusan Tuhan sebagai ketidakadilan, anggaplah itu jalan berbatu yang akan mengantarkan kita ke tamanNYA yang paling indah.” Ujarnya sedikit kesal dengan nada yang sedikit tinggi.
Ya, aku memang terlalu banyak mengeluh. Tak seperti Fauzi. Aku tahu keluarganya cukup berada, tapi dia tidak pernah menggantungkan semuanya pada orangtua. Bisa saja dia telfon ke rumahnya sekarang dan meminta kiriman uang, pasti secara otomatis rekeningnya akan langsung terisi berdigit-digit angka nol. Namun kenyataannya sekarang dia bersamaku karena tak ada uang cukup untuk mengisi bensin motor, bersamaku meniti aspal yang berkeringat menuju tempat kost tercinta.
Fauzi masih berceracau, namun aku tak bisa mendengarnya. Pemandangan dari balik bahunya membuatku tak acuh akan apa yang Fauzi ucapkan. Tak jauh dari tempatku berdiri sekarang ada seorang nenek dengan beberapa renteng makanan kecil di tangan kirinya, berjalan agak tertatih menawarkan makanan kecil pada tiap orang yang ditemuinya.  Diusianya yang sudah senja bukankah seharusnya ia menikmati masa tuanya di rumah dengan tenang?. Ahh.. benar kata Fauzi. Masih banyak yang kurang beruntung daripada aku.
“Ferdi! Kamu dengerin aku nggak?!”
Sentak Fauzi membuatku kembali memperhatikannya dan memberinya isyarat untuk melihat ke belakang.
“Kue, nak?” kata nenek itu yang kini berada di belakang Fauzi. Fauzi segera berbalik dan sejenak memastikan apa yang dilihatnya.
“Kue nak?” ulang nenek itu sambil memamerkan senyum yang kian menunjukkan garis-garis tahun yang menunjukkan tak sedikit waktu yang sudah dilewatinya.
“Yang ini berapa, Nek?” Fauzi menunjuk kacang polong.
“Seribu, Nak.”
“Saya mau yang ini saja nek. Dua ya.”
Fauzi mengambil lembar terakhir uang yang menghuni dompetnya dan menyodorkannya  pada nenek. Sang nenek memeriksa uang yang ada di genggamannya, namun cukup untuk kembalian Fauzi.
“Ambil saja kembaliannya, Nek.” Ucap Fauzi mencoba memecah kebuntuan.
“Hey.. tapi..” Aku mencoba protes. Aku menatapnya dan berusaha mengingatkannya tak banyak uang yang kita punya.
“....”
“Ambil saja buat nenek.” Ulang Fauzi tak acuh padaku.
Sang nenek tersenyum, kini memamerkan giginya yang tak lagi utuh.
“Terimakasih, Nak.” Ucapnya senang sambil meraih uang lima ribuan Fauzi dan melanjutkan perjalanan menjajakan makanan kecilnya.
Fauzi membalas senyuman sang Nenek  dan kembali meniti trotoar.
“Itu tadi kan... sisa... uang... “ Aku berusaha mengimbangi langkah Fauzi.
“Anggap saja sedekah.” Jawabnya ringan tanpa beban.
“Tapi... . Lalu kita makan apa?” Ucapku mulai putus asa memikirkan aa yang sudah dilakukan Fauzi.
“Mau pinjam uang sama anak-anak yang lain pasti susah karena sekarang ini sedang banyak-banyaknya pengeluaran.” Lanjutku.
Fauzi tiba-tiba berhenti dan kini tertinggal beberapa langkah di belakangku.
“Kamu mau cara instan dapat uang?”
>>> 
“Mas! Es jeruknya dua.”
“Mie ayamnya mana mas?”
Hem.. di sinilah kami sekarang. Warung mie ayam Pak Leo, tempat favorite kami saat perut tak mau lagi kompromi menunggu untuk diisi. Namun sekarang bukan sebagai pelanggan, melainkan sebagai pekerja honorer yang mengharapkan rupiah membayar tiap peluh yang tercecer.
Malam ini cukup ramai. Hampir semua kursi terisi penuh. Meski hanya warung kecil namun kelezatan mie ayam Pak Leo tak kalah dengan kedai-kedai mie yang banyak berceceran di kota Jember ini. Pelanggan terakhir yang beruntung mendapatkan kursi terakhir cukup membuatku tersentak dan refleks mencari Fauzi yang ternyata juga sudah menyadari kehadiran sosok itu.
“Mau pesan apa, Mbak?”
“Mie ayamnya, du...a. Lho, Ferdi! Ngapain di sini?” Ucap sosok yang bernama Sandra itu riang sambil menunjukku.
“Yaa.. biasalah kerja sambilannya coverboy.” Aku nyengir.
“Coverboy apaan? Majalah yaasin yah?” Balasnya berseloroh.
Aiihh... Emangnya aku sudah almarhum?. Cuma datang berdua, nih?”
“Iya, cuma sama Putra.”
Aku melihat Putra yang juga teman sekampus memamerkan senyumnya yang kata anak-anak mirip Kim Hyun Joong. Memang mirip, tapi hanya senyumnya.
Sandra terlihat mencari-cari seseorang.
“Fauzi juga kerja di sini?” Tanyanya kemudian.
“Iya. Kenapa?”
“Yaa.. nggak apa-apa. Kan kalian sering bareng.”
“wah.. jadi ngobrol. Aku siapin dulu ya pesanannya.”
>>> 
“Kamu lihat sendiri kan tadi dia datang sama siapa” Ucap Fauzi uring-uringan.
“Meskipun datang berdua tapi kan itu belum bisa mengartikan apa-apa.”
“Sudahlah, aku menyerah soal Sandra, Fer. Dia memang lebih pantas dengan Putra.”
“Kenapa kamu selalu menunggu dan tak pernah menyatakan langsung perasaanmu? Kenapa? Kamu takut ditolak? Resiko, Zi. Itu resiko!!”
“Dia memang lebih pantas dengan Putra.”
“Atas dasar apa kamu bilang seperti itu?. Mana Fauzi yang selama ini ku kenal? Yang selalu memperjuangkan mimpinya? Mana?!”
“Mungkin sudah mati.” Ucapnya terduduk di ujung ranjangnya.
“Apa?” dasar, aku paling benci Fauzi yang seperti ini.
“Mimpiku terlalu muluk, Fer. Cerpenku juga tak kunjung dimuat di majalah, dari pihak penerbit novel juga tak memberi respon positif. Mungkin memang jalan mimpiku salah.”
“Kenapa kamu jadi takut dengan mimpimu sendiri? Kenapa kamu nggak langsung datang ke penerbit saja untuk mempromosikan cerpen-cerpenmu? Kenapa Cuma mengandalkan e-mail dan pos?”
Fauzi hanya menunduk tak berkomentar.
“Sudahlah. Terserah.”
Aku keluar membanting pintu kamar Fauzi.
>>> 
Mestinya aku tidak marah seperti tadi malam pada Fauzi. Itukan haknya untuk memilih. Aku harus minta maaf padanya. Aku membuka pintu kamar dan berjalan menuju pintu kamar Fauzi yang tepat berada di depan kamarku.
“Pos!! Pos!!”
Aku mengurungkan niatku mengetuk pintu kamar Fauzi saat mendengar suara itu. Akupun memutar arah menuju pintu utama dan membukanya. Dari balik pagar terlihat seseorang mengacung-acungkan amplop berwarna coklat.
“Pos mas.” Ucapnya.
“Untuk siapa, Pak?” kataku dari balik pagar.
“Fauzi Irfan, mas.” Jawabnya.
Untuk Fauzi? Dari siapa ya? Batinku bertanya sendiri.
Setelah menandatangani tanda terima aku segera masuk kembali ke kost untuk menunjukkannya pada Fauzi.
Beberapa kali aku mengetuk pintu kamarnya namun tak ada jawaban. Aku mencoba membuka pintunya dan ternyata pintunya tak terkunci.
“Zi, ada... Lho, kemana dia?”
Aku tak menemukan sosok yang sudah ku kenal selama dua tahun itu. Aku berlari ke kamar mandi namun sekali lagi aku tak menemukannya.
“Tadi Mas Fauzi sudah pergi sekitar jam delapan mas.” Kata Rizal, juniorku di kampus.
“Kemana?”
Rizal mengangkat bahunya menunjukkan ketidak tahuannya.
Aku masih memandang amplop coklat yang ku pegang, pengirimnya PenaPress. Aku mengerutkan dahi saat mencoba membuka dan membaca isinya. Aku tersenyum dan hampir meloncat seketika saat aku tahu isi surat itu. Kumpulan cerpen Fauzi lolos dan siap diterbitkan.
Aku segera mengganti baju dan keluar mencari Fauzi sambil membawa surat itu.
“Ferdi!”
Aku berhenti dan mencari sumber suara yang sudah tak asing itu. Gadis yang sudah ku kenal berlari-lari kecil ke arahku.
“Mau kemana?”
“Mencari Fauzi.” Jawabku singkat.
“Oh.. memang dia kemana?”
“Kalau aku tahu aku tidak mungkin mencarinya.”
“Coba di telfon dulu.”
“Sudah, tapi nggak diangkat. Kami sempat bertengkar semalam. Mungkin dia pergi ke tempat penerbit, aku mau ke sana.”
“Mmm.. mau nggak aku temenin nyari Fauzi? Ada yang mau aku bicarakan.”
>>> 
“Apa? Jadi kamu...”
“Ya. Aku selalu menunggu kata cinta darinya. Tapi sampai sekarang aku tak pernah mendengarnya. Bahkan ku pikir Fauzi membenciku.”
“Lalu, Putra?”
“Dia cuma sahabatku, tetangga di kampung halaman. Aku minta bantuan Putra untuk membuat Fauzi cemburu, karena... aku selalu cemburu tiap kali melihatnya dengan wanita lain.” Sandra tertunduk diujung pengakuannya.
“Kamu pasti kaget kalau tahu betapa Fauzi juga mencintaimu.”
Sandra menghentikan langkahnya. Aku melihat garis bening di ujung matanya, dan tersenyum penuh keharuan.  Kemudian OST iklan Pocariswe** terdengar. Terlihat Sandra mencari-cari ponselnya.
“iya, halo.. apa?.. Fa.. Fauzi..? dimana..?”
Sandra terlihat kacau dan limbung.
“Kenapa, San?” aku mencoba menenangkan diriku sendiri berusaha mengusir pikiran-pikiran buruk yang mulai bermunculan di otakku.
“Fer.. Fauzi..”
“Kenapa? Fauzi kenapa?”
>>> 
Pikiran buruk di otakku menjelma nyata. Di sinilah aku sekarang, di depan pintu bercat putih bertuliskan ICU. Jantungku masih berdetak tak karuan setelah mendengar berita Fauzi tertabrak mobil. Mestinya tadi malam aku tak menyuruhnya datang ke penerbit. Kalau sampai hal buruk terjadi padanya, pasti akulah orang yang paling menyesal dengan semua ini. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Tak lama kemudian pintu ICU terbuka. Orang-orang berbaju putih keluar dengan wajah muram, salah satu di antara mereka menepuk bahuku mencoba memberi ketenangan pada jantungku yang berdetak semakin tak karuan. Nggak.. ini nggak mungkin terjadi, ini hanya mimpi buruk dan aku pasti akan terbangun setelah ini. Tapi aku tak kunjung terbangun juga sampai beberapa orang keluar lagi sambil mendorong dan menarik ranjang berisi tubuh yang seluruhnya sudah ditutupi selimut putih. Tuhan.. kenapa ini terjadi di saat semuanya menjadi indah?.
“Zi.. kumpulan cerpenmu mau diterbitin tapi kenapa kamu malah pergi? Mimpimu jadi kenyataan,Zii, tapi kenapa kamu malah pergi.?” batinku sambil menatap amplop yang masih ku genggam. Aku melihat Sandra yang kemudian menghambur ke arahku. Menggenggam lenganku dan terus menangis di bahuku. Kalau boleh aku memutar waktu, aku akan menarik kata-kataku semalam, aku tidak akan menyuruh Fauzi ke penerbit kalau akhirnya seperti ini.
“Ferdi.. “
Aku masih bisa mendengar jelas suaramu, Zi. Tapi kenapa kamu tega ninggalin dunia ini.
“Sandra..”
Sekarang kamu juga memanggil Sandra, aku membawa kabar gembira untukmu, Zi. Pasti kamu juga senang kalau tahu bahwa Sandra juga sangat menyukaimu, tapi.. kenapa kamu pergi?
“Hey...! kalian berdua kenapa?”
Aku dan Sandra berbalik bersamaan.
“FAUZI?!!” teriak Sandra.
 “Kamu masih hidup?” ucap Sandra yang kini sudah berada di dekat Fauzi.
Aku mendekati mereka berdua dan mencoba mencubit pipi Fauzi untuk memastikan kalau yang ada dihadapanku sekarang benar-benar Fauzi, bukan ‘Fauzi’.
            “Kamu beneran Fauzi?” pekikku. “Kalau kamu Fauzi, lalu yang tadi...” aku menoleh lagi ke belakang dan melihat adegan mengharukan, di mana segerombolan orang menangis di dekat ranjang yang beberapa saat yang lalu ku kira berisi Fauzi.
“Waktu aku dibawa ke sini tadi memang ada yang mengalami nasib sama denganku, namun keadaannya jauh lebih parah dariku.”
Aku limbung, terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit. Tak bisa lagi mendengar apa lagi yang dikatakan Fauzi maupun Sandra yang kemudian asyik dengan dunia yang tiba-tiba serasa milik berdua. Aku hanya bersyukur ternyara Tuhan tak memanggil Fauzi untuk kembali ke sisiNYA. Aku terus bersyukur masih ada sahabat yang akan selalu mengingatkanku untuk mengejar dan mewujudkan mimpi, meski jalannya tak mudah.
 Kenapa hidup itu disebut hidup? Kenapa cinta itu disebut cinta?  Jika sudah terpojok puluhan, ratusan, bahkan ribuan pertanyaan serupa, maka aku akan semakin terkapar dan terseok  karena terbentur logika. Sama halnya ketika ditanya: untuk apa kita hidup dan apa yang sudah kita lakukan dalam hidup, apakah bermanfaat?. Entahlah, saat ini.. aku hanya bisa bermimpi dan berusaha menjadikannya nyata. Tuhan memang satu-satunya di dunia ini yang tidak perlu berkompromi untuk memutuskan sesuatu, tapi aku akan selalu mengajak Tuhan berkompromi dengan doa yang tak pernah henti ku ucap.

Inspired by:
Meraih mimpi (J-rocks)

Chears
-mail^^-