Pukul 23.50, penghujung malam. Aurelia masih saja terjaga di atas ranjangnya yang penuh dengan buku dan lembaran-lembaran kertas laporan yang belum disusun. Di lantai juga tak kalah ramai, ada piring bekas makan yang belum dibereskan, dan beberapa buku yang terjatuh dari ranjangnya, kacau, seperti habis digunakan syuting film Titanic. Berulangkali Aurelia menguap dan mengucek mata lelahnya.
“tinggal dijilid.” Batin Aurelia. Dia mulai membereskan dan menumpuk buku-buku yang lebih mirip kitab kuno di film-film kolosal dan meletakkannya begitu saja dilantai. Aurelia mengambil modul Struktur Hewannya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Berusaha keras menghafal materi untuk pretest pada praktikum besok, berusaha melawan kantuk yang tak bersahabat, dan dia kalah oleh belaian malam yang sepi.
>>>
Aurelia terusik dengan bunyi baling-baling kipas angin sehingga memaksanya untuk membuka mata. Aurelia melirik jam yang bertengger di tembok sebelah kirinya. Pukul 05.15. dia menarik selimutnya kembali. Sesaat hendak terlelap lagi namun tiba-tiba saja dia menyibak selimutnya dan terduduk menatap jadwal kuliahnya di tembok. Aurelia mendekap mulutnya, mata beningnya terbelalak, dan langsung meloncat turun dari ranjangnya, ada kuliah pukul 05.30. berlari menuju kamar mandi, hanya sempat cuci muka dan gosok gigi. Berlari kembali ke kamar dan memakai baju dengan kecepatan cahaya #lebay.
“berangkat, Assalamualaikum” kata Aurelia bergegas membuka pintu kostnya. Berjalan setengah berlari sendirian di jalan setapak yang entah berapa kali ia lewati. Tak peduli orang-orang menatapnya heran seperti dikejar-kejar satpol PP. Dia kembali melihat jam di layar ponselnya, 05.33.
“Tidaaakk....” teriak hati nurani Aurelia.
>>>
“sial, aku tadi bangun kesiangan.” Ucap Aurelia sambil melahap suap terakhir sarapannya.
“salah siapa tidur larut malam, mau sok jago ngalahin kelelawar yang nokturnal?” ucap Hugo cuek.
“percuma curhat sama kamu.”
“dasar ubur-ubur.” Hugo mencubit pipi Aurelia. “tambah jelek kalau jutek.”
“apaan sih, kodok.!” Aurelia menjulurkan lidahnya.
“wah..wah.. jangan bawa-bawa kodok ya.”
“namamu kan Hugo Rana Saktiyawan. Rana kan artinya katak.”
“namamu nggak kalah aneh, Aurelia kan ubur-ubur.” Hugo tak mau kalah.
“tapi maksudnya bukan itu, dalam bahasa Jerman artinya...”
“ubur-ubur.” Hugo memotong cepat kalimat Aurelia.
“ihhh.. kodok.”
“ubur-ubur.” Hugo menggerak-gerakkan tangannya membentuk gelombang.
“eh.. sudah-sudah. Mentang-mentang mahasiswa Biologi olok-oloknya pakai nama ilmiah.” Lerai Fera. Hugo dan Aurelia kompak menoleh.
“mangga...!!!” ucap mereka kemudian sambil tertawa puas.
“namaku Fera, bukan Mangifera. Jadi aku bukan mangga.” Bela Fera.
“biarin..” goda Aurelia.
“eh Aurel, kenapa kamu nggak pakai rok?”
“lho, emang kenapa?” tanya Aurelia
“nanti kan ada kuliah Genetika.”
Aurelia menepuk dahinya. “aku lupa. Jam berapa sekarang?”
“10.20” jawab Hugo. “kita masuk jam 10.40.” lanjutnya.
“aku mau balik dulu.” Aurelia berdiri dari duduknya. “pinjem motormu, Fer.”
“tasmu tinggalin di sini saja, kalau nanti telat kan bisa pakai alasan dari ‘belakang’.” saran Hugo.
“tumben es abadi di otakmu mencair.” Aurelia masih sempat menggoda Hugo.
“ya sudah aku nitip ya.”
Aurelia kemudian berlari menuju tempat parkir. Mencari motor matic Ungu Fera di tengah ratusan motor yang berjajar di parkiran. Untungnya ketemu. Aurelia memacu motor matic cepat. Melewati tikungan pertama dan tak peduli pada aspal berlubang di depannya, terobos. Setelah tikungan ke dua dilewatinya ada jalan panjang lurus yang menuju pintu masuk Universitas, Aurelia menambah kecepatannya dan berharap tidak telat, menggeser tuas lampu sen ke kiri sebelum pertigaan besar di depannya. Tiba-tiba ada motor yang hendak menyebrang, Aurelia terkejut dan.,..
“Bbrraaaakkk...!!!”
>>>