Rabu, 28 Desember 2011

semester 3 (cerpen) -1-


Pukul 23.50, penghujung malam. Aurelia masih saja terjaga di atas ranjangnya yang penuh dengan buku dan lembaran-lembaran kertas laporan yang belum disusun. Di lantai juga tak kalah ramai, ada piring bekas makan yang belum dibereskan, dan beberapa buku yang terjatuh dari ranjangnya, kacau, seperti habis digunakan syuting film Titanic. Berulangkali Aurelia menguap dan mengucek mata lelahnya.
“tinggal dijilid.” Batin Aurelia. Dia mulai membereskan dan menumpuk buku-buku yang lebih mirip kitab kuno di film-film kolosal dan meletakkannya begitu saja dilantai. Aurelia mengambil modul Struktur Hewannya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Berusaha keras menghafal materi untuk pretest pada praktikum besok, berusaha melawan kantuk yang tak bersahabat, dan dia kalah oleh belaian malam yang sepi.
>>> 
Aurelia terusik dengan bunyi baling-baling kipas angin sehingga memaksanya untuk membuka mata. Aurelia melirik  jam yang bertengger di tembok sebelah kirinya. Pukul 05.15. dia menarik selimutnya kembali. Sesaat hendak terlelap lagi namun tiba-tiba saja dia menyibak selimutnya dan terduduk menatap jadwal kuliahnya di tembok. Aurelia mendekap mulutnya, mata beningnya terbelalak, dan langsung meloncat turun dari ranjangnya, ada kuliah pukul 05.30. berlari menuju kamar mandi, hanya sempat cuci muka dan gosok gigi. Berlari kembali ke kamar dan memakai baju dengan kecepatan cahaya #lebay.
“berangkat, Assalamualaikum” kata Aurelia bergegas membuka pintu kostnya. Berjalan setengah berlari sendirian di jalan setapak yang entah berapa kali ia lewati. Tak peduli orang-orang menatapnya heran seperti dikejar-kejar satpol PP. Dia kembali melihat jam di layar ponselnya, 05.33.
“Tidaaakk....” teriak hati nurani Aurelia.
>>> 
“sial, aku tadi bangun kesiangan.” Ucap Aurelia sambil melahap suap terakhir sarapannya.
“salah siapa tidur larut malam, mau sok jago ngalahin kelelawar yang nokturnal?” ucap Hugo cuek.
“percuma curhat sama kamu.”
“dasar ubur-ubur.” Hugo mencubit pipi Aurelia. “tambah jelek kalau jutek.”
“apaan sih, kodok.!” Aurelia menjulurkan lidahnya.
“wah..wah.. jangan bawa-bawa kodok ya.”
“namamu kan Hugo Rana Saktiyawan. Rana kan artinya katak.”
“namamu nggak kalah aneh, Aurelia kan ubur-ubur.” Hugo tak mau kalah.
“tapi maksudnya bukan itu, dalam bahasa Jerman artinya...”
“ubur-ubur.” Hugo memotong cepat kalimat Aurelia.
“ihhh.. kodok.”
“ubur-ubur.” Hugo menggerak-gerakkan tangannya membentuk gelombang.
“eh.. sudah-sudah. Mentang-mentang mahasiswa Biologi olok-oloknya pakai nama ilmiah.” Lerai Fera. Hugo dan Aurelia kompak menoleh.
“mangga...!!!” ucap mereka kemudian sambil tertawa puas.
“namaku Fera, bukan Mangifera. Jadi aku bukan mangga.” Bela Fera.
“biarin..” goda Aurelia.
“eh Aurel, kenapa kamu nggak pakai rok?”
“lho, emang kenapa?” tanya Aurelia
“nanti kan ada kuliah Genetika.”
Aurelia menepuk dahinya. “aku lupa. Jam berapa sekarang?”
“10.20” jawab Hugo. “kita masuk jam 10.40.” lanjutnya.
“aku mau balik dulu.” Aurelia berdiri dari duduknya. “pinjem motormu, Fer.”
“tasmu tinggalin di sini saja, kalau nanti telat kan bisa pakai alasan dari ‘belakang’.” saran Hugo.
“tumben es abadi di otakmu mencair.” Aurelia masih sempat menggoda Hugo.
“ya sudah aku nitip ya.”
Aurelia kemudian berlari menuju tempat parkir. Mencari motor matic Ungu Fera di tengah ratusan motor yang berjajar di parkiran. Untungnya ketemu. Aurelia memacu motor matic cepat. Melewati tikungan pertama dan tak peduli pada aspal berlubang di depannya, terobos. Setelah tikungan ke dua dilewatinya ada jalan panjang lurus yang menuju pintu masuk Universitas, Aurelia menambah kecepatannya dan berharap tidak telat, menggeser tuas lampu sen ke kiri sebelum pertigaan besar di depannya. Tiba-tiba ada motor yang hendak menyebrang, Aurelia terkejut dan.,..
“Bbrraaaakkk...!!!”
>>> 


semester 3 (cerpen) -2-


            Aurelia masih menutup matanya sambil menarik tuas rem di tangan kanan dan kirinya.
“apa aku masih hidup.” Batin Aurelia. Perlahan dia membuka mata. Ternyata dia tidak menabrak, namun hanya kurang sedikit lagi dia menabrak motor di depannya. Kemudian Aurelia nyengir kepada pengendara di depannya dan pada orang-orang di warung kaki lima di sebelah kirinya yang sedari tadi mengawasinya dengan tatapan yang seakan bicara: WARNING!! Mahkluk berbahaya.
Lalu tadi bunyi apa?. Aurelia celingukan melihat ke kiri dan ke kanan. Owalah.. ternyata ada gerobak sampah yang menabrak tiang listrik, pantas saja gerobak sampah kan nggak punya rem.
Aurelia melanjutkan perjalanannya menuju tempat kost yang tak jauh dari kampusnya dengan jantung yang masih dag dig dug hampir nabrak.ternyata aku masih diselamatkan, thanks God. Berbelok memasuki gang dan berhenti di depan pagar kostnya.
“braakkk...” pintu dibuka dengan keras. “Assalamualaikum!!!”
 Berlari masuk ke dalam seperti perampok. Membuka pintu kamarnya dan memakai rok panjang yang sudah tergantung dibalik pintu tanpa melepas celana jeans yang tadi dipakainya.
“yang penting nggak telat.” Ocehnya. Semenit kemudian Aurelia sudah memacu kembali motor matic Fera. Menuju tempat parkir dan setengah berlari menuju ruang kuliah. Menaiki anak tangga dengan peluh yang membanjiri tubuhnya dengan hawa panas yang tak mampu dibendungnya. Di atas sana terdengar sayup-sayup suara teman sekelas Aurelia.
”berarti dosennya belum dateng.” Batin Aurel.
Aurelia memasuki kelas dan menghampiri lambaian tangan Fera.
“wih..keringatnya segedhe jagung.” Kata Fera.
Aurelia tak menanggapinya dan hanya berusaha mengatur nafasnya.
“neraka bocor kali ya, panas banget.” Aurelia mengibas-ibaskan tangannya.
“lagi di renovasi.” Timpal Fera.
“eh teman-teman..” sang Capten class maju di depan kelas. “Bu Rita barusan SMS, katanya nggak ada kelas hari ini, ibuknya sibuk ngurusi ujian.”
Seketika sorak-sorai memenuhi ruang 12, Aurelia masih berusaha mempercayai kenyataan yang baru saja terjadi, seketika menyandarkan punggungnya di kursi.
“Aku sampai bela-belain balik ke kost buat ganti rok, hampir nabrak orang, bahkan celanaku nggak ku lepas.” Berondong Aurelia kesal sambil mengangkat roknya sedikit menunjukkan celana yang masih dikenakannya. Fera hanya tersenyum prihatin menatap Aurel.
“masih hampir nabrak kan, beruntung gag nabrak beneran.” Timpal Hugo yang kini duduk di depan kedua sahabat itu.
“iya juga sich, tapi tetep aja aku kesel! Kesel! Kalau tahu gini kan aku tadi gag perlu balik ke kost.”
“kalau udah tahu apa yang terjadi pasti kamu bisa jadi dukun.” Kata Hugo. Aurel makin jengkel.
“bener-bener deh semester tiga ni, capek.” Aurel mengalihkan pembicaraan berusaha menahan jengkelnya.
“iya, tugas banyak. Belum lagi praktikum dan nulis laporan, haduh..” tambah Fera.
“kalian ini banyak ngeluh deh. Masih untung bisa hidup dan kuliah. Banyak teman-teman lain yang pengen kuliah tapi nggak ada biaya. Bersyukur dikit kenapa.” Hugo memberikan thausiyah. Dalam pandangan Aurel dan Fera saat ini ada lampu sorot yang sedang menyinari Hugo, wajahnya bersinar seperti malaikat di film-film, dengan kilau-kilau di sekitarnya. Aurel dan Fera seakan tersadar dan kompak menggelengkan kepala mereka cepat.
“iyaa..ada benernya sih kata-katamu....”
“heem.” Fera manggut-manggut.
“ya udah aku mau pulang dulu.” Hugo berdiri sambil menggendong tas ranselnya di satu sisi-Hugo style.
“kodok! Tunggu” kata Aurel.
Hugo berbalik, mempesona. “apa?”
“mmm.. nggak jadi deh.” Aurel mengurungkan niatnya.
“huh.. dasar ubur-ubur.”
>>> 
“materi bab ini sudah selesai. Minggu depan test ya.” Kata Bu Rita sore itu.
Otomatis seisi kelas ribut sendiri. Sang dosen hanya berlalu keluar kelas tanpa komentar.
“ya Allah.. minggu depan test?” Aurel menghempas nafas beratnya.
“resiko mahasiwa.”
“mahasiswa!” koreksi Aurel. Fera hanya nyengir melihat sahabatnya sewot.
“padahal minggu depan harus ngumpulin powerpoint Struktur Hewan, presentasi Biokimia, ujian Biostatistik juga. Huuu ...” Aurel mendekap wajah ayunya.
“laporan Genetikaku juga belum selesai.. hwaaa...” lanjutnya.
“ya dikerjakan dong, jangan dipikir saja.” Kata Hugo tiba-tiba. Sejak kapan mahkluk ini ada di sini. Dia sering banget muncul tiba-tiba, jangan-jangan dia ini punya Pintu Kemana Sajanya Doraemon, heemmpptt ... batin Aurel.
“dipikir aja capek, apalagi dikerjakan.”
“makanya nggak usah dipikir, langsung kerjain, kan capeknya gag doble.” Balas Hugo.
“kalau kayak gini terus bisa-bisa kurus mendadak.” Kata Fera
“memang sekarang berat badanmu berapa? Tanya Aurel.
“48 kg.” Jawab Fera.
“kamu nggak lulus Fisika Dasar ya?” kata Aurel. Fera dan Hugo mengerutkan keningnya.
“berat itu satuannya Newton, bukan Kg. Kalau aku tanya massamu berapa baru deh jawabnya 48 Kg.” Terang Aurel sudah kayak guru senior.
“hemm.. kamu nggak lulus Bahasa Indonesia yah. Gunakan bahasa sesuai tempat,  waktu, dan orang yang diajak bicara, di masyarakat kita kan sudah terbiasanya bilang kilogram kalau ditanya seperti itu.” Fera nggak mau kalah.
“tapi kan tetap saja salah.”
“ya nggak bisa dong.”
“kalian berdua nggak lulus Pendidikan Agama ya?” hugo yang sedari tadi diam kini angkat bicara. “masalah kecil saja jadi ribut. Hormati pendapat orang lain, jangan jadi kunci perpecahan, itu yang diajarkan dalam Agama.”
Aurel dan Fera terdiam. Kemudian ketiganya tertawa. Dasar mahasiswa-mahasiswi aneh.
>>> 
“jumat besok aku mau balik ke rumah.” Kata Aurel suatu sore.
“kenapa? Laporan kan numpuk, tugas banyak. Kok kepikiran buat pulang?” kata Fera tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
“uangku sudah habis. Tahu sendiri kan buat beli modul praktikum. Belum lagi fotocopy buku ini-itu.” Aurel menyeruput Es Coklatnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan menjerit. Nomor tak dikenal. Aurel mengangkat dan meletakkannya di telinga.
“assalamualaikum... ya... apa? Hugo?!... di rumah sakit mana..?!.” aurel panik. Mata indah Aurel nampak hawatir.
>>> 

semester 3 (cerpen) -3-


Aurel berlari memecah angin yang membelai rambut lurusnya. Berlari di antara tiang-tiang koridor rumah sakit yang pucat. Air matanya yang menggenang tersapu angin dan mengering sudah di ekor matanya. Hingga akhirnya bediri di depan pintu bertuliskan Melati-9. Sesaat setelah mengatur nafas ia mengetuknya pelan. Namun tak ada jawaban. Kedua kalinya, dan tetap tak ada tanda-tanda pintu itu akan dibuka. Aurel memutuskan untuk membuka pintu itu.
“kkrriiiieeett...” suara pintu terbuka. Aurel mengerutkan dahinya ketika tak melihat sosok Hugo di sana.
“kau mencariku?” Hugo kaget melihat Aurel yang tiba-tiba ada di ruang rawat inapnya.
Aurelia spontan menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Hugo kini sudah berdiri di hadapannya. Mengenakan piyama rumah sakit, dengan balutan perban di lengan kanannya serta selang infus yang menjuntai dari tangan kirinya. Aurel sontak menghambur memeluk Hugo yang masih berdiri memegang tiang infus. Air matanya tak dapat lagi dibendung.
“hey... hey... aku masih hidup kok.”
“Hugo..” lirihnya
“baru kali ini kamu menyebut namaku dengan benar.”
>>> 
Aurel mengikuti langkah Hugo menyusuri koridor melewati pintu-pintu yang membatasi sudut pandang. Hugo masih menggenggam tangan Aurel erat. Sesaat kemudian Hugo menghentikan langkahnya dan duduk di kursi taman. Dia memberi isyarat pada Aurel agar duduk di sampingnya. Entah kenapa sepi begitu erat mendekap waktu hingga tertatih detik  jam melewati satu lingkaran penuh orbitnya.
“kok jadi diem-dieman kayak gini sih.” Hugo berusaha memecah hening.
Aurel tersenyum dan berkata, “entahlah, mungkin aku terlalu takut.”
“takut apa?” Hugo menatap Aurel.
“kehilangan.” Jawab Aurel singkat sambil menatap mega yang mulai melukis langit sore. Angin senja kembali berhembus membelai sela-sela rambutnya. Tebarkan aroma rumput basah dan bunga yang berbaur dengan daun kering yang berguguran.
“rasa kehilangan akan tetap ada, jika kau pernah merasa memilkinya.” Kata Hugo datar.
“itu kan lirik lagu.” Timpal Aurel.
Hugo tersenyum semanis matahari yang senang kembali ke peraduannya.
“ada awal pasti ada akhir.”
“mmm... memangnya kenapa tadi kok bisa nabrak?” Aurel beusaha mengganti topik pembicaraan.
“oh, itu. Tadi pas asik nyetir ada kucing tiba-tiba lari ke tengah jalan. Daripada nabrak tuh kucing mending aku masuk selokan, haha.” Hugo tertawa sambil memegang perutnya. “aduh..aduh ternyata masih sakit, haha.” Kembali dia berusaha menahan tawa.
“bela-belain kucing sampai luka kayak gini?”
Hugo hanya nyengir. “Cuma luka kecil kok.”
“Cuma luka kecil.” Aurel mengamati Hugo mulai atas sampai bawah. “Tapi sampai pake seragam rumah sakit segala. Kamu sudah lama dirawat di sini?”
“mm.. nggak..nggak kok.” Hugo tergagap. “oya, siapa yang ngasih tahu kamu kalau aku di sini?”
“tadi ada yang nelfon, katanya kamu kecelakaan dan dirawat di sini.”
“siapa?” tanya hugo sambil membenarkan tiang infusnya.
Aurel mengangkat bahunya. “suaranya sih cewek, kayak ibuk-ibuk gitu.”
“pasti Mama.” Kata Hugo.
“apa?” Aurel tak mendengar yang dikatakan Hugo.
“ah.. bukan apa-apa kok.” Elak Hugo.
Aurelia cemberut membuat bibirnya semakin mancung.
“kita sudah semester 3 ya.” Hugo menyandarkan punggungnya di sandaran kursi taman. Aurel hanya diam menunggu apa yang akan dikatakan Hugo. Si katak yang selama ini selalu menemaninya, dan dengan lancang telah mengetuk pintu hatinya.
“mungkin aku tidak bisa menghabiskan akhir  semester ini bersamamu.” Hugo menerawang menatap langit senja yang menguning, dengan semburat mega merah.
“kenapa?”
“aku harus pergi.”
“kemana?”
“tempat yang  jauh.” Kemudian hening. Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing.
“sebelum aku pergi bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?.”
“pertanyaanku belum kamu jawab.”
“jangan manja.”
“jangan curang.” Aurel ngotot.
“please ubur-ubur, sekali ini sajalah mengalah padaku.”
Dua mahkluk egois berdebat, tenggelam dalam ego masing-masing. Mengapa berat ungkapkan cinta padahal ia ada.
“aku mau jujur padamu.” Kata Hugo pelan.
“apa?” Aurel berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran aneh yang asyik beterbangan di dalam otaknya.
“sebenarnya aku ini vampire.”
“hempth..” aurel spontan mendekap mulutnya, menahan tawa seakan tak percaya apa yang sudah dikatakan Hugo.
“aku nggak bercanda.” Hugo menatap tajam Aurel. Aurel berusaha menghentikan tawanya.
“hemofilia. Kamu tahu itu kan.” Hugo menggenggam tangan Aurel. Berharap dia mau mengerti keadaannya sekarang, bukan sebuah lelucon yang patut ditertawakan.
“Hugo..” Aurel menyesal.
“setiap bulan aku harus jadi vampire. Melakukan cuci darah dan transfusi ini itu.” Aurel merasakan tangan Hugo yang bergetar menggenggam tangannya. Dapat dirasakannya kehawatiran yang sangat besar. Bendungan air tercipta di mata indahnya.
“maaf aku menceritakan ini semua padamu. Aku cuma tak ingin menyesal jika tiba-tiba saja ada malaikat yang menyapaku dan mengajakku ikut bersamanya.”
“kamu ini ngomong apa sih.”
“aku sayang kamu,  Aurel.” Hugo menatap mata Aurel lekat. Aurel mendengar kata-kata yang selama ini sangat dinantikannya dari pria yang sangat dicintainya.
“aku..”
“aku tahu kamu juga sayang aku kan?.” Kata Hugo sambil menunjuk hidungnya.
“ihhh.. kata siapa?” aurel berusaha menyembunyikan pipinya yang bersemu merah.
“lho, nggak sayang ya?” wajah Hugo nampak melas.
“ah.. nggak.. nggak gitu kok..”
“hahahaha... tuh kan.. ternyata kamu juga sayang sama aku.” Dasar nih orang pede banget. Batin Aurel. Aurel tersenyum malu dan hendak kabur namun langkahnya terhenti saat tangan Hugo menahan lengannya.
“jangan pergi. Temani aku dulu sampai senja pergi.” Aurel menurut dan kembali duduk di dekat Hugo.
“senja itu indah.” Kata Hugo menatap langit timur yang menguning.
“kamu suka Senja?.” Tanya Aurel.
Hugo mengangguk.
“tadi katanya sayang sama aku, tapi sekarang kok suka sama Senja?.” Goda aurel.
Hugo mengerutkan keningnya, mencoba berpikir apa yang dimaksud Aurel. Kemudian tersenyum dan berkata:
“bukan Senja sahabatmu tapi senja sekarang ini.” Ucapnya sembari kembali menatap langit senja. Aurel masih menatap Hugo yang baru saja mengatakan cinta padanya. Merasa ada yang memperhatikan Hugo menoleh ke arah Aurel.
“apa?” katanya. Aurel  hanya tersenyum.
“meski aku takut kehilangan setidaknya sekarang aku tahu perasaanmu.” Kata Aurel.
“kamu nggak menyesal, aku punya hemofili lho?”
“buat apa? Melihat senyummu saja sudah membuatku senang tenang saja aku yang akan menjagamu agar tidak terluka sedikitpun sehingga kamu tidak akan kehabisan darah, darahmu susah sekali membeku kan kalau terluka?”
“ngerayu nih yeee...” canda Hugo.
“kalau masalah umur aku serahkan semuanya pada yang di Atas. Yang penting bagaimana caranya mensyukuri hari ini.” Kata Hugo.
“hari ini ya hari ini, besok ya besok. Hehehe” lanjut Aurel.
“jadi sekarang kita pacaran?”
Aurel tersenyum menatap langit senja yang sangat indah, mendengar sesuatu yang indah, bersama orang yang selalu membuat dunia ini terasa indah adalah hal terindah yang pernah dirasakan Aurel.
Tiba-tiba ponsel Aurell bergetar, ada sms
From: Senja
Kpn u pulng? Kpn ngerjakan tugs Struktur Hewan? Besok dkmpulin lho, jgn kencan melulu, hahaha...

“haduh...”
“kanapa?” tanya Hugo.
“tugasku belum selesai.”
???!!!!!
>>> 
Mc bersambung... hehehehe
MAIL ^^