Senin, 12 Desember 2011

Lilin-lilin redup #2



Senja telah beranjak menjemput malam namun masih saja aku termenung menatap bayanganku di cermin. Genangan air mata kini telah menetes membasahi pipi... lagi. Masih terngiang cerita Andi siang tadi, membuka kembali jahitan luka 2 tahun lalu, sebuah penolakan cinta yang halus itu.
“Mii orangnya baik, bahkan dia terlalu baik untukku.” Begitulah yang Ihsan katakan kepada Andi tentangku. Kenyataan itu baru ku ketahui sekarang setelah dua tahun lamanya aku menyebutnya monster gletser>es abadi di kutub. Semakin sesak kurasa, semua usaha yang telah aku lakukan agar terlihat baik dihadapannya malah menjadi alasannya menolak cintaku waktu itu. Sempat aku berfikir lebih baik aku dilahirkan sebagai orang  jahat saja.
Bukan hanya itu, semua yang ku dengar tentang Ihsan di sekolah sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang diceritakan Andi.
“Ayahnya adalah pengusaha sukses di Jakarta, investasi besar-besaran yang dilakukannya mengalami kegagalan hingga bangkrut. Ibunya meninggal secara misterius, sehingga ia dikirim ke kota ini agar tidak dikejar-kejar para penagih hutang.” Begitu cerita andi. Ternyata Ihsan bukan seorang teroris yang kabur, setidaknya itu fikiran mulia yang tercipta dari otakku setelah mengenalnya sebagi orang yang sangat tertutup.
“dia juga pernah ke tempat prostitusi dan ikut pesta miras.” Aku tersentak mendengar cerita Andi yang satu ini. Seorang yang menurutku sangat taat pada agamanya ternyata...
“tapi jujur saja dia tidak pernah merasakan apa itu Cinta satu  Malam, lingkungannya di Jakarta memang seperti itu.” Lanjut Andi menenangkan hatiku.
“tapi ingat, pura-pura saja tidak tahu tentang hal ini, bisa jadi santapannya Ihsan aku nanti, haha..”Andi menoleh ke arahku dengan sudut mata aku mengangkat sebelah alisku.
“tapi kenapa kamu menceritakan itu semua?”
“karena aku tahu kamu sangat mencintainya, dan tak mungkin bagiku untuk bersaing dengan Ihsan.”
“maksutnya?”
“teeett.. teeet” riuh teriakan bel dan hamburan teman-teman menenggelamkan suara Andi, meski sudah ku coba tapi tak bisa ku baca bibirnya.
“sudahlah cepat masuk.” Hanya itu yang mampu ku dengar.
>>>
Sudah satu minggu ini aku tidak melihat sosoknya. Bangku pojok belakang itupun masih sepi. Tapi.... tunggu dulu, ternyata tidak kosong. Sosok itu, aku mengenalnya. Ingin aku menyapanya tapi malu begitu kuat menahan suaraku.
“Ihsan.” Akhirnya aku sanggup menyapanya. Dia terbangun dari tumpukan tangannya di meja. Dia hanya menoleh dan  kembali tenggelam dalam tumpukan lengannya.
“kamu kemana saja?” kataku setelah duduk di depannya. Tapi tak ada jawaban.
“kamu kenapa?” ulangku berharap mendapat jawaban.
Ihsan mengangkat kepalanya, wajahnya agak pucat.
“kamu sakit?“ tanyaku cemas.
“aku nggak kenapa-kenapa kok.” Jawabnya parau dengan mata yang dipaksa terbuka.
“oh iya, ke mana saja kamu seminggu ini?.” Selidikku penasaran.
“itu buku catatanmu ya?.” Ihsan mengambil buku catatan yang ku pegang, kelihatannya dia tak ingin membahas pertanyaanku tadi.
“woii.. pelajaran olahraga segera mulai, malah asik berduaan” suara yang ku kenal menyadarkanku. Terlihat Andi berdiri di ujung pintu.
“ayo ke lapangan.”
“aku bolos, cepat sana kumpul.”
“bolos??” batinku bingung mengiringi langkahku ke lapangan belakang.
>>>
            “bolos?”
            “iya bolos. Itu yang dia katakan tadi.”
            “Ihsan sering sekali bolos pelajaran olahraga, apa dia tidak suka olahraga?” Andi hanya mengangkat bahunya.
            “kamu kan sahabatnya.”       
 “hemm.. yang aku tahu Ihsan itu suka makan nasi goreng, mie ayam dan bakso.”
“yang kamu tahu cuma makanan saja.”
“haha.. Ihsan tidak boleh minum soda, yang ini serius.” Andi menatapku tajam.
“sudahlah aku mau balik ke kelas. Oh ya salam buat Ihsan jangan lupa nanti malam.” Andi pun berlalu sebelum sempat ku tanyakan apa yang akan mereka lakukan. Aku kembali ke kelas dengan banyak sekali pertanyaan sekitar Ihsan berputar-putar di otakku, sejenak masalah keluarga sedikit terlupakan, terlupakan? Ku rasa tidak. Bayangan tangis umi subuh tadi kembali melubangi hatiku.perasaan seorang istri yang selalu ingin taat pada suami sampai mengorbankan perasaannya sendiri.
Pelajaran biologi siang ini terasa sangat lama dan membosankan. Aku menebarkan pandanganku ke penjuru kelas. Ada yang menguap, menyisir rambut, ngobrol, bahkan ada yang tidur. aku menoleh ke arah bangku Ihsan, kursinya kosong. Kemana dia?
>>>
Sial, botol minum kesayanganku tertinggal. Aku kembali lagi ke kelas melewati lapangan belakang sekolah yang sudah tak terpakai. Dari kejauhan terlihat seseorang sedang bermain basket sendiri. Satu..dua.. tiga tembakan dari garis tiga poin berhasil dia lakukan dengan nyaris sempurna. Bukankah itu Ihsan? ya itu Ihsan. Aku bergegas menghampirinya yang kini mematung menatap ring basket. Ihsan berbalik menyadari kehadiranku. Keringat membanjiri tubuhnya dan dia pucat sekali, lebih pucat dari tadi pagi.
“Ihsan kamu kenapa?”
Ihsan hanya menyungging senyum tipis dan berjalan gontai menghampiriku, sejurus kemudian aku melihatnya  jatuh terduduk dengan lutut dan tangan yang menahan tubuhnya. Aku segera menghampirinya, nafasnya memburu, dia menatapku yang kini ada di hadapannya. Sesaat kemudian matanya kian sayudan  dia pun terkulai dalam pelukku..
“ihsan.. bangun ihsan.. Ihsan..!! “

Tidak ada komentar:

Posting Komentar