Senin, 12 Desember 2011

lilin-lilin redup 4 end



“aku benci sama Abi.”
“kenapa?” jawab Ihsan ringan
“kemarin Abi datang ke rumah bersama the pooh-nya. Memamerkan hasil karya mereka.”
“owh, itu yang membuatmu meninggalkanku. lalu?”
“ya aku nggak suka.”
“ya nggak sukanya kenapa?”
“ya pokoknya nggak suka..” aku membanting ranting yang ku pegang.
“bencimu tidak beralasan Mii.. sudahlah jangan diteruskan lagi perasaan seperti
 itu, toh Umimu juga sudah ihklas kan, jadi kenapa kamu tidak belajar untuk itu?”
aku hanya terdiam, mungkin benar apa yang Ihsan katakan.
“ya.. Eh Ihsan..”
“apa?” Ihsan menatapku, mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
“aku hanya heran, bukankah Allah mengatakan manusia itu diciptakan berpasang-pasangan?” Ihsan terlihat berfikir dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“ya, itu menjadi salah satu tanda kebesaran Allah. Telah diciptakanNYA untuk kita pasangan hidup dari jenis kita sendiri. Ada dalam surat Ar Ruum, apa yang kamu herankan?”
“yang namanya pasangan itu kan dua-dua. Misalnya sepatu, kiri dan kanan. Tapi kenapa Abi mempunyai pasangan lebih dari satu?”
Ihsan tersenyum melihatku dan mengangkat bahunya.
“tenang saja, kalau kamu bersamaku aku tidak akan mencari pasangan yang lain lagi, cukup kamu saja yang merepotkan hatiku,” diakhiri tawa renyah Ihsan menggodaku.
Saat-saat bersama Ihsan adalah saat yang paling berharga. Begitu ku syukuri tiap denting waktu yang kami lewati, sebelum waktu merenggut ceria dan terganti sepi, sebelum semuanya berlalu. Aku hanya ingin melihatnya tertawa bersamaku.
“tapi aku tidak tahu apa aku bisa.” Ucapnya menerawang.
“jangan bicara seperti itu.”
“setidaknya sekarang biarkan aku merasakan bahagia bersamamu.” Senyumnya lebih manis dari biasanya.
“kenapa sih dari tadi bicara seperti itu? Apa dari awal kamu berniat meninggalkanku?”
“Mii.. aku tidak tahu sampai kapan aku di sini, yang ku tahu keadaanku tak lebih baik dari sebelumnya, aku se...”
“hentikan! Hentikan!” ku menutup mata dan kedua telingaku. “aku nggak mau mendengar kata perpisahan.” Air mataku mulai membasahi pipi.
“aku akan kembali ke Jakarta, ayah sudah menemukan donor ginjal yang cocok untukku.  Lusa aku berangkat.“
>>>
Tiga bulan setelah kepergian Ihsan ke Jakarta, aku mendapatkan berita operasinya berhasil, dan secepatnya dia akan kembali ke kota ini. Sepertinya kisah cintaku mengalami perubahan cerita dari skenario sebelumya, mungkin senyum yang akan menjadi akhir kisah ini.
>>>
Aku masih termangu menatap mendung yang menggantung sejak tadi malam. Matahari nakal mengintip dibalik awan kelabu. Angin yang berhembus membawa aroma basah, sepertinya hujan akan turun. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Sepi, hanya ada beberapa orang yang berjongkok hidmat di beberapa sudut.
Aku mengayunkan bunga mawar yang ku pegang. Jalan kecil yang ku lewati nampak membisu.
“hai Ihsan, apa kabar?” aku meletakkan bunga mawar di dekat batu yang bertuliskan Ihsan suherman.
Ya.. akhirnya Ihsan benar-benar pergi meninggalkanku. Operasinya memang berhasil, namun efek obat-obatan keras membuat hatinya mengalami gangguan dan akhirnya dia benar-benar pergi untuk selamanya. Sekeras apapun aku menolak kenyataan ini tapi ini benar-benar terjadi.
Jika kau tanya kepaadaku kenapa aku mencintaimu, alasannya hanya satu: karena aku tak mungkin untuk tidak mencintaimu. Biarlah cahaya lilin redup ini menjadi penerang di hatimu sampai kau mampu menemukan cahaya lain yang mampu terangi hatimu.
Ihsan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar