Senin, 12 Desember 2011

lilin-lilin redup #3



Ihsan...
Senja mulai merayap dan melukis langit dengan mega merahnya. Putus asa, lelah ku mengguncang tubuhnya, aku hanya terdiam dan menatap wajah sepi Ihsan, entah kenapa hatiku sangat sakit, air mataku berulang kali menetes, ya Allah... Ponselku kembali menjerit dan bergetar di dalam tas ranselku, aku tak bisa mengambilnya. Mungkin Umi bingung mencariku sekarang dan menunggu cemas kedatanganku di ruang tamu.
“kemana saja kamu Dek? Kenapa tidak telfon ke rumah dulu kalau pulang telat?” begitulah dialog yang selalu umi katakan kala aku terlambat pulang. Pertanyaan itu tak pelu jawaban karena umi segera menyuruhku makan dan menemaniku dengan senyum yang selalu tersungging di wajah ayunya, senyum yang selalu tersungging bahkan setelah abi membagi cintanya.
Aku terhenyak, ku rasakan gerakan di lenganku. Aku berjingkat menatap Ihsan, matanya mulai terbuka, dan terbuka.
“Ihsan..” seketika perasaan lega merayapi hati. Mataku mulai buram karena genangan air mata. Ihsan menatapku sendu, kemudian menyeka air mataku yang meleleh dengan ujung  jilbabku.
“jangan menangis untukku.” Katanya parau dan terduduk sambil memegang kepalanya.
“sudah berapa lama aku tidur?” ucapnya tanpa menoleh ke arahku.
“tidur? pingsan seperti itu kamu bilang tidur? bahkan aku sempat berfikir kau sudah.. sudah..” tenggorokanku tercekat, dadaku sesak. Seakan tak ada lagi oksigen yang bisa ku hirup. Ihsan memilih berdiri dan menatap matahari yang mulai terusir malam.
“kamu kenapa? Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku..?” teringat akan ucapan Andi kemarin, ku urungkan niatku membuka semuanya. Ku lirik Ihsan yang masih menatap langit timur,  diam tak bergeming
“ini sudah ketiga kalinya kamu bertanya aku kenapa. Kalau sudah bertanya yang keduabelas kalinya berhadiah piring cantik lho.” Ucapnya mencoba mencairkan suasana yang begitu.. beku.
”sudahlah. ayo aku antar pulang.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku yang masih bersimpuh di lantai beton. Aku hanya memandang uluran tangannya, ingin tapi  pantang untukku meraihnya.
“oh maaf.” Ujarnya setelah menyadari apa yang terjadi. Aku berdiri sendiri dan membersihkan rok panjangku yang penuh debu.
“aku hanya ingin tahu. Semuanya bahkan lebih sulit dari pada pelajaran genetika sekalipun.” Paksaku agar Ihsan  ungkap semua.
“mungkin kamu akan menyesal memaksaku cerita semuanya.”
>>>
“kelainan ginjal?” ihsan hanya diam tak menjawab.
“ku harap sikapmu tak berubah padaku setelah kamu tahu keadaanku. Jangan pandangi aku dengan tatapan iba seperti itu, aku benci.”
Temaram menjadi penerang  jalan kami, jalan kota yang tak pernah sepi. Berulang kali rok abu-abuku berkibar dibelai angin yang dingin sekali petang ini. Dari kejauhan terdengar panggilan mengagungkan Sang Pencipta bersahut-sahutan. Daun-daun berguguran diterpa angin. Sebuah  bunga merah muda terjatuh dari pohonnya dan melayang ke tengah jalan. Satu.. dua roda mobil yang lewat menerbangkannya tepat di kaki Ihsan.
            “Umimu pasti bingung mencarimu.” Ucapnya sambil memainkan bunga yang dipungutnya. Aku lebih memilih diam, membiarkan sepi merajai sekat di antara kami. Sepanjang jalan hanya ada sepi, tanpa suara.
Ihsan menghela nafas berat, seakan ingin melepas semua beban yang bahkan tak pernah dirasanya ringan. Setelah ku tahu semua tentangnya.. hidupnya.. aku jadi semakin bangga padanya. Semakin tak rela hatiku untuk tinggalkannya.
            “jangan lagi memendam semuanya sendiri.” Kucoba memecah sepi.
            “berbagi kebahagiaan saja aku belum bisa, huh... bisanya Cuma bikin sedih orang.” Keluhnya. Aku tahu kalimat itu untukku.
            “lalu apa gunanya teman? Apa gunanya sahabat? Menangis bukanlah cermin kelemahan, tapi keberanian  hati untuk berkata apa adanya.”
            “lalu apa yang akan kamu lakukan jika semuanya hanya akan sia-sia? Apa yang kamu lakukan jika sudah tahu akhhirnya akan membawa luka?” ucapnya datar namun tajam merambah hati.
            “Ihsan, semuanya sudah ada yang mengatur. Kita yang berusaha, Allah yang menentukan. Berfikir positive lah pada ketentuan Allah yang sudah digariskan untuk kita, semuanya pasti ada hikmahnya.”
            “tapi kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa bukan orang lain saja Mii? Kenapa..?” suaranya bergetar. Aku tak sanggup membalas tatapan matanya yang mulai berair.
            “ibu, ayah, bahkan harapan hidupku pun nggak jelas. Egokah aku jika aku masih berharap agar kamu bisa bersamaku? Aku  nggak mungkin menyia-nyiakan satu-satunya harapanku untuk bertahan di sini Mii.” Ucapnya tertunduk, Suaranya lirih saat menyebut namaku.
            “bersamaku mungkin hanya akan membuatmu terluka.” Pandangan matanya menerawang jauh ke depan.
            “tapi aku akan lebih terluka jika tak bersamamu. kamu tahu aku sangat..”
            “jangan dilanjutkan Mii..”
            “aku sangat.. “
            “Mii!!” bentak Ihsan
            “aku tahu, aku tahu. Mestinya aku yang berkata aku sayang sama kamu. Maaf selama ini selalu membuat perasaanmu bingung karena perasaanku yang nggak jelas.” Ucapnya
            “Ihsan..” meski ku tahu akhir cerita cinta indah ini berujung air mata tapi setidaknya ijinkan aku membuat kenangan yang indah bersamamu.
            “mii.. maukah kamu berjanji untukku?”
            “apa?”
            “jika nanti aku benar-benar pergi.. jangan menangis untukku ya?”
            “apaan sich,, bicara seperti itu. Sudahlah santai saja.”
Tak terasa langkah kami sudah sejauh ini. Diujung persimpangan sebelah kiri itu adalah rumahku. Aku berhenti di bawah tiang listrik yang redup, setelah ku lihat mobil berwarna hitam terparkir di depan rumahku, mobil Abi.
            “kenapa berhenti?” tanya Ihsan yang kini ada beberapa langkah di depanku.
            “sebaiknya kamu pulang”
            “kenapa?”
            “sudahlah pulang saja.” Aku berjalan terburu melewati Ihsan
            “Mii..” Ihsan menggenggam lengan bajuku. Menatap penuh hawatir.
            “besok  kita ketemu lagi di sekolah. Sebaiknya cepat pulang dan istirahat.” Aku bergegas meninggalkan Ihsan yang ku rasa masih menatap punggungku. Maaf Ihsan, besok pasti akan ku ceritakan semuanya... tunggu aku.
>>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar