Aurelia masih menutup matanya sambil menarik tuas rem di tangan kanan dan kirinya.
“apa aku masih hidup.” Batin Aurelia. Perlahan dia membuka mata. Ternyata dia tidak menabrak, namun hanya kurang sedikit lagi dia menabrak motor di depannya. Kemudian Aurelia nyengir kepada pengendara di depannya dan pada orang-orang di warung kaki lima di sebelah kirinya yang sedari tadi mengawasinya dengan tatapan yang seakan bicara: WARNING!! Mahkluk berbahaya.
Lalu tadi bunyi apa?. Aurelia celingukan melihat ke kiri dan ke kanan. Owalah.. ternyata ada gerobak sampah yang menabrak tiang listrik, pantas saja gerobak sampah kan nggak punya rem.
Aurelia melanjutkan perjalanannya menuju tempat kost yang tak jauh dari kampusnya dengan jantung yang masih dag dig dug hampir nabrak.ternyata aku masih diselamatkan, thanks God. Berbelok memasuki gang dan berhenti di depan pagar kostnya.
“braakkk...” pintu dibuka dengan keras. “Assalamualaikum!!!”
Berlari masuk ke dalam seperti perampok. Membuka pintu kamarnya dan memakai rok panjang yang sudah tergantung dibalik pintu tanpa melepas celana jeans yang tadi dipakainya.
“yang penting nggak telat.” Ocehnya. Semenit kemudian Aurelia sudah memacu kembali motor matic Fera. Menuju tempat parkir dan setengah berlari menuju ruang kuliah. Menaiki anak tangga dengan peluh yang membanjiri tubuhnya dengan hawa panas yang tak mampu dibendungnya. Di atas sana terdengar sayup-sayup suara teman sekelas Aurelia.
”berarti dosennya belum dateng.” Batin Aurel.
Aurelia memasuki kelas dan menghampiri lambaian tangan Fera.
“wih..keringatnya segedhe jagung.” Kata Fera.
Aurelia tak menanggapinya dan hanya berusaha mengatur nafasnya.
“neraka bocor kali ya, panas banget.” Aurelia mengibas-ibaskan tangannya.
“lagi di renovasi.” Timpal Fera.
“eh teman-teman..” sang Capten class maju di depan kelas. “Bu Rita barusan SMS, katanya nggak ada kelas hari ini, ibuknya sibuk ngurusi ujian.”
Seketika sorak-sorai memenuhi ruang 12, Aurelia masih berusaha mempercayai kenyataan yang baru saja terjadi, seketika menyandarkan punggungnya di kursi.
“Aku sampai bela-belain balik ke kost buat ganti rok, hampir nabrak orang, bahkan celanaku nggak ku lepas.” Berondong Aurelia kesal sambil mengangkat roknya sedikit menunjukkan celana yang masih dikenakannya. Fera hanya tersenyum prihatin menatap Aurel.
“masih hampir nabrak kan, beruntung gag nabrak beneran.” Timpal Hugo yang kini duduk di depan kedua sahabat itu.
“iya juga sich, tapi tetep aja aku kesel! Kesel! Kalau tahu gini kan aku tadi gag perlu balik ke kost.”
“kalau udah tahu apa yang terjadi pasti kamu bisa jadi dukun.” Kata Hugo. Aurel makin jengkel.
“bener-bener deh semester tiga ni, capek.” Aurel mengalihkan pembicaraan berusaha menahan jengkelnya.
“iya, tugas banyak. Belum lagi praktikum dan nulis laporan, haduh..” tambah Fera.
“kalian ini banyak ngeluh deh. Masih untung bisa hidup dan kuliah. Banyak teman-teman lain yang pengen kuliah tapi nggak ada biaya. Bersyukur dikit kenapa.” Hugo memberikan thausiyah. Dalam pandangan Aurel dan Fera saat ini ada lampu sorot yang sedang menyinari Hugo, wajahnya bersinar seperti malaikat di film-film, dengan kilau-kilau di sekitarnya. Aurel dan Fera seakan tersadar dan kompak menggelengkan kepala mereka cepat.
“iyaa..ada benernya sih kata-katamu....”
“heem.” Fera manggut-manggut.
“ya udah aku mau pulang dulu.” Hugo berdiri sambil menggendong tas ranselnya di satu sisi-Hugo style.
“kodok! Tunggu” kata Aurel.
Hugo berbalik, mempesona. “apa?”
“mmm.. nggak jadi deh.” Aurel mengurungkan niatnya.
“huh.. dasar ubur-ubur.”
>>>
“materi bab ini sudah selesai. Minggu depan test ya.” Kata Bu Rita sore itu.
Otomatis seisi kelas ribut sendiri. Sang dosen hanya berlalu keluar kelas tanpa komentar.
“ya Allah.. minggu depan test?” Aurel menghempas nafas beratnya.
“resiko mahasiwa.”
“mahasiswa!” koreksi Aurel. Fera hanya nyengir melihat sahabatnya sewot.
“padahal minggu depan harus ngumpulin powerpoint Struktur Hewan, presentasi Biokimia, ujian Biostatistik juga. Huuu ...” Aurel mendekap wajah ayunya.
“laporan Genetikaku juga belum selesai.. hwaaa...” lanjutnya.
“ya dikerjakan dong, jangan dipikir saja.” Kata Hugo tiba-tiba. Sejak kapan mahkluk ini ada di sini. Dia sering banget muncul tiba-tiba, jangan-jangan dia ini punya Pintu Kemana Sajanya Doraemon, heemmpptt ... batin Aurel.
“dipikir aja capek, apalagi dikerjakan.”
“makanya nggak usah dipikir, langsung kerjain, kan capeknya gag doble.” Balas Hugo.
“kalau kayak gini terus bisa-bisa kurus mendadak.” Kata Fera
“memang sekarang berat badanmu berapa? Tanya Aurel.
“48 kg.” Jawab Fera.
“kamu nggak lulus Fisika Dasar ya?” kata Aurel. Fera dan Hugo mengerutkan keningnya.
“berat itu satuannya Newton, bukan Kg. Kalau aku tanya massamu berapa baru deh jawabnya 48 Kg.” Terang Aurel sudah kayak guru senior.
“hemm.. kamu nggak lulus Bahasa Indonesia yah. Gunakan bahasa sesuai tempat, waktu, dan orang yang diajak bicara, di masyarakat kita kan sudah terbiasanya bilang kilogram kalau ditanya seperti itu.” Fera nggak mau kalah.
“tapi kan tetap saja salah.”
“ya nggak bisa dong.”
“kalian berdua nggak lulus Pendidikan Agama ya?” hugo yang sedari tadi diam kini angkat bicara. “masalah kecil saja jadi ribut. Hormati pendapat orang lain, jangan jadi kunci perpecahan, itu yang diajarkan dalam Agama.”
Aurel dan Fera terdiam. Kemudian ketiganya tertawa. Dasar mahasiswa-mahasiswi aneh.
>>>
“jumat besok aku mau balik ke rumah.” Kata Aurel suatu sore.
“kenapa? Laporan kan numpuk, tugas banyak. Kok kepikiran buat pulang?” kata Fera tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
“uangku sudah habis. Tahu sendiri kan buat beli modul praktikum. Belum lagi fotocopy buku ini-itu.” Aurel menyeruput Es Coklatnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan menjerit. Nomor tak dikenal. Aurel mengangkat dan meletakkannya di telinga.
“assalamualaikum... ya... apa? Hugo?!... di rumah sakit mana..?!.” aurel panik. Mata indah Aurel nampak hawatir.
>>>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar