Aurel berlari memecah angin yang membelai rambut lurusnya. Berlari di antara tiang-tiang koridor rumah sakit yang pucat. Air matanya yang menggenang tersapu angin dan mengering sudah di ekor matanya. Hingga akhirnya bediri di depan pintu bertuliskan Melati-9. Sesaat setelah mengatur nafas ia mengetuknya pelan. Namun tak ada jawaban. Kedua kalinya, dan tetap tak ada tanda-tanda pintu itu akan dibuka. Aurel memutuskan untuk membuka pintu itu.
“kkrriiiieeett...” suara pintu terbuka. Aurel mengerutkan dahinya ketika tak melihat sosok Hugo di sana.
“kau mencariku?” Hugo kaget melihat Aurel yang tiba-tiba ada di ruang rawat inapnya.
Aurelia spontan menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Hugo kini sudah berdiri di hadapannya. Mengenakan piyama rumah sakit, dengan balutan perban di lengan kanannya serta selang infus yang menjuntai dari tangan kirinya. Aurel sontak menghambur memeluk Hugo yang masih berdiri memegang tiang infus. Air matanya tak dapat lagi dibendung.
“hey... hey... aku masih hidup kok.”
“Hugo..” lirihnya
“baru kali ini kamu menyebut namaku dengan benar.”
>>>
Aurel mengikuti langkah Hugo menyusuri koridor melewati pintu-pintu yang membatasi sudut pandang. Hugo masih menggenggam tangan Aurel erat. Sesaat kemudian Hugo menghentikan langkahnya dan duduk di kursi taman. Dia memberi isyarat pada Aurel agar duduk di sampingnya. Entah kenapa sepi begitu erat mendekap waktu hingga tertatih detik jam melewati satu lingkaran penuh orbitnya.
“kok jadi diem-dieman kayak gini sih.” Hugo berusaha memecah hening.
Aurel tersenyum dan berkata, “entahlah, mungkin aku terlalu takut.”
“takut apa?” Hugo menatap Aurel.
“kehilangan.” Jawab Aurel singkat sambil menatap mega yang mulai melukis langit sore. Angin senja kembali berhembus membelai sela-sela rambutnya. Tebarkan aroma rumput basah dan bunga yang berbaur dengan daun kering yang berguguran.
“rasa kehilangan akan tetap ada, jika kau pernah merasa memilkinya.” Kata Hugo datar.
“itu kan lirik lagu.” Timpal Aurel.
Hugo tersenyum semanis matahari yang senang kembali ke peraduannya.
“ada awal pasti ada akhir.”
“mmm... memangnya kenapa tadi kok bisa nabrak?” Aurel beusaha mengganti topik pembicaraan.
“oh, itu. Tadi pas asik nyetir ada kucing tiba-tiba lari ke tengah jalan. Daripada nabrak tuh kucing mending aku masuk selokan, haha.” Hugo tertawa sambil memegang perutnya. “aduh..aduh ternyata masih sakit, haha.” Kembali dia berusaha menahan tawa.
“bela-belain kucing sampai luka kayak gini?”
Hugo hanya nyengir. “Cuma luka kecil kok.”
“Cuma luka kecil.” Aurel mengamati Hugo mulai atas sampai bawah. “Tapi sampai pake seragam rumah sakit segala. Kamu sudah lama dirawat di sini?”
“mm.. nggak..nggak kok.” Hugo tergagap. “oya, siapa yang ngasih tahu kamu kalau aku di sini?”
“tadi ada yang nelfon, katanya kamu kecelakaan dan dirawat di sini.”
“siapa?” tanya hugo sambil membenarkan tiang infusnya.
Aurel mengangkat bahunya. “suaranya sih cewek, kayak ibuk-ibuk gitu.”
“pasti Mama.” Kata Hugo.
“apa?” Aurel tak mendengar yang dikatakan Hugo.
“ah.. bukan apa-apa kok.” Elak Hugo.
Aurelia cemberut membuat bibirnya semakin mancung.
“kita sudah semester 3 ya.” Hugo menyandarkan punggungnya di sandaran kursi taman. Aurel hanya diam menunggu apa yang akan dikatakan Hugo. Si katak yang selama ini selalu menemaninya, dan dengan lancang telah mengetuk pintu hatinya.
“mungkin aku tidak bisa menghabiskan akhir semester ini bersamamu.” Hugo menerawang menatap langit senja yang menguning, dengan semburat mega merah.
“kenapa?”
“aku harus pergi.”
“kemana?”
“tempat yang jauh.” Kemudian hening. Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing.
“sebelum aku pergi bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?.”
“pertanyaanku belum kamu jawab.”
“jangan manja.”
“jangan curang.” Aurel ngotot.
“please ubur-ubur, sekali ini sajalah mengalah padaku.”
Dua mahkluk egois berdebat, tenggelam dalam ego masing-masing. Mengapa berat ungkapkan cinta padahal ia ada.
“aku mau jujur padamu.” Kata Hugo pelan.
“apa?” Aurel berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran aneh yang asyik beterbangan di dalam otaknya.
“sebenarnya aku ini vampire.”
“hempth..” aurel spontan mendekap mulutnya, menahan tawa seakan tak percaya apa yang sudah dikatakan Hugo.
“aku nggak bercanda.” Hugo menatap tajam Aurel. Aurel berusaha menghentikan tawanya.
“hemofilia. Kamu tahu itu kan.” Hugo menggenggam tangan Aurel. Berharap dia mau mengerti keadaannya sekarang, bukan sebuah lelucon yang patut ditertawakan.
“Hugo..” Aurel menyesal.
“setiap bulan aku harus jadi vampire. Melakukan cuci darah dan transfusi ini itu.” Aurel merasakan tangan Hugo yang bergetar menggenggam tangannya. Dapat dirasakannya kehawatiran yang sangat besar. Bendungan air tercipta di mata indahnya.
“maaf aku menceritakan ini semua padamu. Aku cuma tak ingin menyesal jika tiba-tiba saja ada malaikat yang menyapaku dan mengajakku ikut bersamanya.”
“kamu ini ngomong apa sih.”
“aku sayang kamu, Aurel.” Hugo menatap mata Aurel lekat. Aurel mendengar kata-kata yang selama ini sangat dinantikannya dari pria yang sangat dicintainya.
“aku..”
“aku tahu kamu juga sayang aku kan?.” Kata Hugo sambil menunjuk hidungnya.
“ihhh.. kata siapa?” aurel berusaha menyembunyikan pipinya yang bersemu merah.
“lho, nggak sayang ya?” wajah Hugo nampak melas.
“ah.. nggak.. nggak gitu kok..”
“hahahaha... tuh kan.. ternyata kamu juga sayang sama aku.” Dasar nih orang pede banget. Batin Aurel. Aurel tersenyum malu dan hendak kabur namun langkahnya terhenti saat tangan Hugo menahan lengannya.
“jangan pergi. Temani aku dulu sampai senja pergi.” Aurel menurut dan kembali duduk di dekat Hugo.
“senja itu indah.” Kata Hugo menatap langit timur yang menguning.
“kamu suka Senja?.” Tanya Aurel.
Hugo mengangguk.
“tadi katanya sayang sama aku, tapi sekarang kok suka sama Senja?.” Goda aurel.
Hugo mengerutkan keningnya, mencoba berpikir apa yang dimaksud Aurel. Kemudian tersenyum dan berkata:
“bukan Senja sahabatmu tapi senja sekarang ini.” Ucapnya sembari kembali menatap langit senja. Aurel masih menatap Hugo yang baru saja mengatakan cinta padanya. Merasa ada yang memperhatikan Hugo menoleh ke arah Aurel.
“apa?” katanya. Aurel hanya tersenyum.
“meski aku takut kehilangan setidaknya sekarang aku tahu perasaanmu.” Kata Aurel.
“kamu nggak menyesal, aku punya hemofili lho?”
“buat apa? Melihat senyummu saja sudah membuatku senang tenang saja aku yang akan menjagamu agar tidak terluka sedikitpun sehingga kamu tidak akan kehabisan darah, darahmu susah sekali membeku kan kalau terluka?”
“ngerayu nih yeee...” canda Hugo.
“kalau masalah umur aku serahkan semuanya pada yang di Atas. Yang penting bagaimana caranya mensyukuri hari ini.” Kata Hugo.
“hari ini ya hari ini, besok ya besok. Hehehe” lanjut Aurel.
“jadi sekarang kita pacaran?”
Aurel tersenyum menatap langit senja yang sangat indah, mendengar sesuatu yang indah, bersama orang yang selalu membuat dunia ini terasa indah adalah hal terindah yang pernah dirasakan Aurel.
Tiba-tiba ponsel Aurell bergetar, ada sms
From: Senja
Kpn u pulng? Kpn ngerjakan tugs Struktur Hewan? Besok dkmpulin lho, jgn kencan melulu, hahaha...
“haduh...”
“kanapa?” tanya Hugo.
“tugasku belum selesai.”
???!!!!!
>>>
Mc bersambung... hehehehe
MAIL ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar