“hari Senin ada 2 praktikum, Selasa ada tes Strategi belajar dan presentasi Biokimia, hari Rabu praktikum lagi, Kamis ujian Genetika, hempth....” Aurel membanting notenya di meja. Menyandarkan punggung lelahnya. Fera hanya melihat Aurel prihatin.
“sama, aku juga gitu.”
“oh semester tiga. Memang benar-benar mengesankan.” Ucap Aurel dramatik seperti sedang membaca puisi. Tangannya mengepal dan menghentak meja. Fera tersenyum geli.
“kenapa lagi?” Hugo tiba-tiba muncul di depan mereka. Lengan kanannya masih dibalut perban. Sontak Aurel membenarkan posisi duduknya dan mencoba tersenyum, namun terlihat aneh.
“udah baikan?” tanya Fera. Hugo hanya tersenyum dan mengangguk.
“Udah ada yang nyembuhin.” Hugo melihat ke arah Aurel. Aurel tertunduk malu, menyembunyikan pipinya yang memerah seperti udang rebus.
“ciiyyyeee..... ayo bayar pajak jadian.”
“mau ditraktir apa?”
“ihh.. apaan sich..” Aurel mencubit lengan Fera.
“sakit, Aurel.!” Fera protest.
“eh, Fer. Aku pinjem ubur-ubur dulu ya.” Hugo menrik tangan Aurelia dan pergi meninggalkan kelas. Ketika keluar kelas Aurel masih bisa mendengar Fera bersuit-suit. Sepanjang koridor banyak mata yang mengawasi mereka. Aurel melepaskan genggaman tangan Hugo, malu.
>>>
“jumlah pengeluaran semester ini sangat luar biasa banyaknya. Jatah bulan depanpun amblas bulan ini.” Kata Hugo sambil memainkan lolipopnya, kemudian memasukkannya dalam mulutnya.
“iya, tiap kali mengeluarkan uang selalu saja teringat Mama dan Papa. Itu sama saja dengan keringat kerja keras mereka membiayai kita.”
“iya, makanya kuliah yang serius.” Hugo mengacak rambut Aurel.
“kamu juga, jangan sakit terus, kodok.” Aurel kembali teringat saat Hugo sakit karena dia terlambat cuci darah.
Hugo hanya tersenyum, “maaf selalu membuatmu hawatir.”
“semester tiga ini sangat mengesankan.”
“kenapa?”
“bagaimana tidak? Tiada hari tanpa tugas dan sibuk sana-sini. Bolak-balik tempat kost-kampus-perpus-kost-kampus-perpus lagi.”
“seperti trayek angkutan kota, haha.” Timpal Hugo.
“tambah satu lagi yang membuat semester 3 ini begitu mengesankan.”
“apa?”
“kodok bisa jatuh cinta sama ubur-ubur. Luar biasa kan?”
“haha, kalau kodok kawin sama ubur-ubur, anaknya jadi apa ya?” canda Hugo.
“jadi mutan.” Keduanyapun tertawa.
Seperti apapun susahnya jalan ini, pasti ada jalan mudah yang ditunjukkan Tuhan. Seperti apapun cobaan yang datang, Tuhan tidak akan pernah memberikannya diluar batas kemampuan yang mampu kita pikul. Karena Tuhan sangat mengerti dan menyayangi kita. Seperti senja yang selalu menjadi akhir yang indah dari perjalanan hari yang terik.
>>>
-End-
Mail^^
Thanks 4 reading, maaf kalau ceritanya jelek dan kurang mengesankan, hehe.. but once again thx 4 reading n ur coment in my story. ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar