Rabu, 14 Desember 2011

First Journey @ Baluran #part2


           
Setelah istirahat sejenak, kami dipersilahkan untuk mengisi bahan bakar. Menu makan pagi  ini adalah ayam goreng dengan sayur santan plus sambal dan kerupuk udang. Monyet-monyet yang berdomisili di pantai Bama mulai menunjukkan ketidakbaikan iktikadnya. Beberapa monyet berusaha merebut makanan kami. Sebagian teman yang lembut hatinya ‘membagikan’ sedikit makanan mereka  pada monyet, tidak termasuk aku karena perutku lebih membutuhkannya.

Setelah puas mengisi bahan bakar kami mulai melakukan bongkar muat. Penginapan terdiri dari 2 bangunan induk yang dipisahkan oleh sebuah koridor yang tidak terlalu panjang. Penginapan bagian depan yang lebih besar dibanding bagian belakang dan langsung menghadap pantai dihuni oleh kaum hawa, sedangkan bagian belakang adalah tempat kaum adam bernaung. Penginapan bagian depan dan belakang terdiri dari 2 kamar dan ‘ruang serbaguna’ ditengahnya serta sebuah kamar mandi.

Tak perlu menunggu terlalu lama, kami langsung menyisir bibir pantai secara bersama-sama, mencari bivalvia dan gastropoda yang terdampar dan tertimbun pasir putih. Aku berada di barisan paling belakang bersama beberapa teman yang lain. Sejenak berdiri menghadap peraduan sang surya. Menikmati aroma pantai dan hembusan angin laut yang sudah lama tak kuarasa. Ombak perlahan menjilati kakiku yang hanya memakai sandal segala jaman yang anti air –sandal jepit-.  Panggilan temanku menyadarkanku untuk kembali mencari spesimen.

Proses identifikasi berlangsung setelah ishoma. Akhirnya kami kembali menikmati masa-masa TK yang memang tak pernah ku alami dulu, menggambar. Proses identifikasi berlangsung cukup lama karena spesimen yang diamati cukup banyak, apalagi banyak spesies yang belum kita ketahui namanya.

Senja bersiap menjemput malam, tubuh mulai penat. Beberapa anak laki-laki berlarian dan menceburkan diri ke pantai. Yang lain hanya menyaksikan kekonyolan mereka dengan tertawa. Suasana yang tenang tiba-tiba terusik saat beberapa anak cowok mulai menceburkan anak cewek secara paksa satu per satu. Korbannya yaitu: Nuria, Vita, dan Merla. Calon-calon korban yang lain memilih kabur dan pergi ke kamar mandi.
Langit barat bermandikan cahanya orange yang indah. Temaram mulai menyelimuti garis horizon, mengiringi matahari kembali ke peraduannya. Angin laut semakin terasa membelai bibir pantai dan pohon bakau, malam mulai merayap.
Setelah makan malam acara pengamatan spesimen berlanjut, menggambar-menggambar dan terus menggambar. Sekitar pukul sembilan kelompokku berhasil menyelesaikan gambar dan mulai membereskan alat tulis. Kelompok yang juga cukup banyak yang sudah selesai namun masih ada juga yang masih sibuk dengan pena dan buku kerjanya.

Pukul 21.25, aku bergabung bersama teman-teman di bangku yang menghadap langsung ke pantai. Cahaya dari lampu penginapan tak sampai ke sini, bulan juga malu-malu membagi cahaya, jadi hanya seperti siluet saja saat aku melihat wajah mereka. Ada seseorang yang datang dan duduk di sampingku.
“bulannya belum muncul”
“sudah, ada kok.”
“nggak ada.” Aku kemudian berdiri dan menuju ke arah yang lebih lapang dan tidak tertutup pohon.
“bulannya masih tertutup awan”
“bukan, memang bulannya gelap, itu bintangnya masih keliatan, nggak mendung.”
>>> 
Tidak bisa tidur, panas. Ku pikir hawanya dingin sampai ku bawa obat alergi banyak, hehe. Akhirnya aku lebih memilih untuk memainkan penaku, mencoba menulis artikel ini. Detik seakan terseok, terasa lama sekali malam ini. Di luar masih terdengar suara anak-anak yang bermain dom.
Singkat saja sudah, pukul setengah tiga pagi aku mandi. Pukul 4 kami terjun ke laut yang sudah surut. Meski sedikit ngeri dan mata selalu waspada mungkin saja ada ‘bulu babi’ yang nyasar. Banyak sekali spesies yang bagus dan belum pernah ku lihat. Bukan hanya spesiesnya tapi pemandangannya juga bagus. Meski sudah hati-hati tapi tetpa saja ada yang terkena bulu babi. Kasus pertama dialami Abob-teman sekelompokku-. Dan yang menjadi ‘malaikat penolongnya’ adalah Puja, yang bersedia memberikan urinennya secara Cuma-Cuma untuk mengobati lukanya Abob. Kasus kedua dialami oleh Irfan ‘Susu’, yang menjadi malaikat penolongnya kalau tidak salah adalah Deni. Nah, ini kasus yang paling parah karena korbannya sampai pingsan, yaitu Haqqi. Mungkin karena shock dia sampai pingsan seperti itu. setelah insiden itu teman-teman yang lain mulai kembali ke pantai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar