Senin, 12 Desember 2011

Lilin-lilin redup #1



Langit menangis bertabur bintang di ujung malam. Dinginnya memeluk gelap yang sepi dengan awan teduh yang tak mau beranjak dari kota ini. Suara masih sunyi dan mata masih gelap. ku buka tirai jendela dan hanya rinai hujan yang terlihat disorot lampu jalan kompleks yang kesepian. Kenapa aku harus terbangun tengah malam begini?. Kebiasaan yang tak pernah hilang sejak aku mulai akrab dengannya waktu eSeMA dulu. Ku rebahkan lagi tubuhku ke atas kasur dan menatap langit-langit yang terlihat keabu-abuan itu. Teringat akan kenangan saat masih bersamanya. Otakku mulai memutar kembali semua memory itu.
“kamu itu berdoa atau menyuruh Tuhan?” tanyanya dengan nada datar tanpa menatapku.
“sering kamu berdoa – Tuhan kuatkan hatiku – tapi sesering itu pula kamu ingat sakit di hatimu sebagai kesenangan, itu yang membuat tegar di hatimu luntur.” Nadanya mulai meninggi.
“bukankah kamu pernah bilang Allah itu sangat baik? Setelah kesedihan, Allah sudah menyiapkan senyuman. Begitu kan katamu saat ibuku meninggal? Apa itu hanya kata-kata hiburan untukku?” ucapnya seraya menatap kosong ke depan, seakan teringat sesuatuaku.
“kenapa? Ada yang salah dari ucapanku?”
Aku hanya menggeleng. Aku berusaha membendung air mata ini. Semakin tak kuasa hatiku mendengarnya, semua campur aduk. Masalah yang bahkan tak ku tahu ujungnya,  abi yang menikah lagi dan umi yang berusaha tegar namun selalu menangis tiap kali menatap foto abi, dan sekarang..kenapa Ihsan tak seperti biasanya, kenapa ucapannya tak lagi tenangkan hatiku? Ah.. aku menangis lagi. Segera ku hapus air mata dengan telapak tanganku.
“hey.. jangan dianggap serius.” Ucapnya dengan nada yang melunak. “kamu tahu kan aku tak sejahat itu.” Lanjutnya dengan tatapan bersalah. “aku tak..”
“maaf.. maafkan aku.” Hanya itu yang mampu ku ucapkan. Aku menunduk menghindari tatapannya, diiringi tetesan air mata yang membasahi ujung jilbabku.
“aku tak berniat menyuruh Tuhan, aku hanya belum siap menerima kenyataan abi menikah lagi. Semua usahaku sia-sia untuk menyatukan mereka. Aku…aku..” tak sanggup aku melanjutkan dan hanya isak yang mampu terucap. Tangisku meledak. Dia hanya terdiam dan sabar menunggu tangisku reda. Hanya hening dan gesekan daun-daun mangga yang tertiup angin malam yang bicara.
“apakah Tuhan tidak mendengarkan doaku?”ucapku setelah dapat ku kuasai lagi hati ini. Pertanyaan bodoh yang mungkin tak perlu diucapkan oleh seorang anak kiayi.
“semestinya kamu tahu hal itu tidak benar. Allah Maha Mendengar kan? Kamu tahu itu Mii.” Aku hanya diam.
“kamu tahu Allah punya nomor telfon?” aku mengerutkan dahiku menatapnya heran.
“44342, itu nomornya.” aku menoleh seakan tak percaya dia masih bisa bercanda disaat seperti ini.
“apaan sich, Jangan bercanda.” Kataku ketus.
“Mii, aku nggak bercanda. 4 rakaat diwaktu dzuhur, 4 rakaat saat ashar, 3 rakaat saat maghrib, 4 rakaat lagi saat isya’ dan yang terakhir 2 rakaat saat subuh.” Dia menatapku serius. Aku tertegun mendengarnya.
“apakah Allah juga punya customer service?”
“tentu saja, para malaikat yang setia mendoakan dan mengAmini doamu saat pagi baru menjelang. Mau tahu nomor telfon SLJJ Allah?” aku hanya diam dan menunggu, mencoba berfikir.
“Sambungan Langsung Jarak Jauh, kamu tak tahu?” ucapnya sesaat setelah tak ada jawaban dariku.
“berapa nomornya?” jawabku sekenanya.
“2222..” ujarnya menatapku sendu.
“kamu pasti tahu kan shalat sunah di pagi hari dan sepertiga malam. Di saat semuanya sibuk dengan aktifitas dan tenggelam dalam tidurnya kamu datang dan mengadu serta berkeluh kesah padaNYA. Jalur ini tidak banyak yang pakai. Kalau jalur yang tadi sering sibuk, jalur ini bebas roaming dan suara lebih jernih, hahaha” tawanya yang renyah mengakhiri tausiyah singkatnya.
“jadi kesimpulannya Allah selalu mendengar doamu, dan aku yakin Allah pasti sudah menyiapkan kejutan yang indah untukmu.” Dia tersenyum. Hal yang sangat jarang ku lihat.
Semua bebanku rasanya hilang. Aku kagum dibuatnya.
“Ihsan..”
“ya, kenapa? Ada yang salahkah?”
Sekali lagi aku menggeleng. Aku hanya terdiam menahan tangis, tak mampu terucap.
“sudahlah.. aku memang mempesona, haha”  dasar, akupun tertawa sekaligus menangis dibuatnya.
>>>
Minggu terberat saat menjelang ujian kenaikan kelas. Otakku rasanya terpanggang setelah pelajaran fisika siang itu. Muka-muka putus asa teman-temanku minta pertolongan hilang seketika setelah bel istirahat berbunyi. Aku lebih memilih berdiam di kelas dan menolak ajakan teman-teman ke kantin.
Aku menoleh ke belakang sudut kelas. Sudah lebih dari seminggu kursi itu kosong. Surat-surat administrasi untuknya menumpuk di tasku. Ah.. anak itu terlalu misterius, hidupnya lebih rumit daripada kasus pembunuhan dalam film detective. Aku berjalan keluar kelas setelah melihat andi melintas di depan pintu.
“kenapa Ihsan lama tak sekolah?” tanyaku setelah berhasil menyusul langkah andi.
“kamu tidak tahu apa yang terjadi padanya? Bukankah kalian sangat dekat?” jawab cowok bermata empat iru.
“emangnya Ihsan kenapa?” rasa hawatir dan penasaran bercampur di otakku.
“ayahnya...tunggu dulu, kamu benar-benar tidak tahu?”
“ceritakan padaku apa yang terjadi.” Buruka sambil mengguncang lengan Andi.
Andi terlihat bingung.
“aku tak tahu harus mulai dari mana.”
>>>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar