Saat itu bumi masih berpayung mendung ketika dia berlari menghampiriku yang termenung di ambang senja. Senyumnya merekah kala matanya berhasil membidik mataku, kemudian menduduki pasir putih di sampingku.
“Sudah lama?” katanya mencoba mengusir sepi.
Aku menggeleng. Kemudian sepi kembali meraja. Menikmati hati yang berdendang dalam sepi, menari di atas ego yang menguasai hati. Mencoba menekan perasaan yang membuncah riang. Seperti debur ombak yang merayap-rayap di bibir pantai.
Sesaat kemudian dia menyodorkan seikat bunga Edelweiss kehadapanku. Tanda tanya cukup besar mengiringi tanganku saat meraihnya.
“Kamu tahu kenapa Edelweiss disebut bunga abadi?”
Sekali lagi aku menggeleng.
“Karena waktu tak bisa mengoyak dasar bunganya dan melumpuhkan tangkainya. Kamu tahu, Mii?Aku ingin cintaku bisa seperti itu.”
“Kepada siapakah kelak kau akan labuhkan cintamu yang seperti itu?” pertanyaan itu terhenti di tenggorokanku.
Akhi, selalu bisa membuatku terpesona. Mengenalkanku lebih dekat denganNYA dan mengajarkanku pentingnya sabar.
Tuhan, aku mencintainya, sungguh. Detik saat bersamanya selalu ku bingkai indah dan ku simpan rapi dalam hati. Menyimpan cinta dalam diam dan mengaguminya dalam hening. Tuhan, ini tak mudah. Tuhan, aku ingin dia menjadi imam di setiap shalatku. Tuhan, semoga dia tahu perasaanku, meski suara ini selalu sunyi.
Selalu ku nanti ucapan kata cinta darinya. Namun itu tak pernah ku dengar sampai air mata menjadi tanda perpisahan. Di ujung barat pulau Jawa dia melanjutkan studynya dan aku hijrah ke Palembang dengan tujuan yang sama. Di sini, tak sedikit cinta yang datang mencoba mengetuk pintu hatiku. Namun hatiku masih saja mengarah padanya.
Empat tahun sudah aku melewati bulan Ramadhan di kota orang. Tiba saatnya aku kembali ke rumah, mengamalkan ilmu yang sudah ku dapat. Terselip sedikit harap untuk bertemu dengannya lagi. Meminta jawab atas perasaan yang suci ini. namun hanya kosong yang jadi jawaban. Akhi tak pernah datang hingga sebuah lamaran sampai ke rumah. Sungguh perasaanku padanya tak pernah berubah, namun bagaimana kalau perasaannya tidak sama denganku?
>>>
Senja itu aku memutuskan untuk pergi ke pantai. Menikmati mega merah di batas horizon. Ombak-ombak nakal menjilati kakiku yang tak beralas. Di tempatku berdiri sekarang matahari terlihat gagah meski hendak tenggelam.
“Sudah lama ya?”
Sebuah suara yang selama ini sangat ku rindukan tiba-tiba terdengar.
“Akhi?!” pekikku kaget.
Kemudian seakan kami tertarik kembali ke masa lalu, tenggelam dalam obrolan saat masih di sekolah dulu. Hingga sampai pada titik klimaks pembicaraan kami.
“Kalau ada kata yang berarti lebih dari cinta, aku ingin menghadiahkannya untukmu.”
Aku mendekap mulutku tak percaya, mencoba membendung sesal, menyalahkan waktu yang menghadirkannya tak tepat waktu.
“Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?” aku tak sanggup lagi menahan air mata ini.
Akhi pun terkejut melihat cincin yang melingkar di jari manisku. Aku bisa melihat sesal di ujung matanya.
“Kenapa kamu tak mau menungguku?”
Tuhan, inikah takdirMU? Inikah jawaban atas penantianku? Apakah ini akan jadi catatan kelabu bersamanya di ujung senja? Kenapa tak pernah ada kompromi dari keputusan yang Engkau tetapkan? Inikah yang terbaik Tuhan?.
Bumi masih berpayung mendung saat ku sadar semuanya sudah terlambat. Bolehkah ku batalkan semua dan menanggalkan cincin ini?.
-end-
RGJ, 070112@08.59
-mail^^-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar