Sabtu, 10 Maret 2012

Saat Mimpi Berteman Sabar


Jika mimpi adalah fondasi untuk meraih cita, mungkin fondasi cita-cita Fauzi sudah terlalu tinggi. Setiap hari lebih dari 3 jam ia larut dalam mimpi-mimpi. Harapannya adalah melihat namanya terpampang di media cetak. Impiannya sangat bergemuruh. Memacu ACTH1 merangsang kelenjar adrenal untuk mensekresikan adrenalin yang mampu membuatnya menggila tiap kali berhadapan dengan tuts laptop, mencoba mengeluarkan cerita yang tersesat di rimba otaknya
Yah.. dialah temanku, Fauzi. Seseorang yang benar-benar eksotis dimataku, inspiratif dengan perjuangannya yang begitu gigih. Cita-citanya adalah menjadi seorang cerpenis. Cita-cita yang sangat menyimpang jauh dari jurusan yang ditempuhnya sekarang, FKIP Biologi.
“Dewi ‘dee’ lestari juga bukan lulusan sastra tapi novelnya bolak-balik cetak ulang.” Belanya saat aku meminta pertanggung jawaban dari ambisinya yang sangat kuat.
“Lalu kapan ceritamu bisa dicetak?” tantangku meladeni pembelaannya. Kemudian dia terlihat terpojok kemudian menundukkan pandangannya dan hanya memainkan daun trembesi yang jatuh di atas meja di depan kami.
Kerap Fauzi mengirimkan cerpen-cerpennya, namun tidak ada yang meninggalkan jejak. Semuanya hanya tersimpan rapih dalam draft. Padahal menurutku cerpen-cerpen yang ditulisnya cukup bagus, tidak kalah dengan dengan cerpen-cerpen yang sering ku baca di majalah, hanya saja bahasanya cenderung menggurui.
 ddrrrtt... ddrrrttt... ddrrrttt...” ponsel Fauzi menjerit tertahan, menggeliat di atas meja. Terlihat amplop kuning berkedip-kedip di layarnya. Air mukanya seketika berubah setelah membaca pesan itu.
“Kenapa?” tanyaku
“Gagal lagi.” Jaabnya sendu tanpa melihat ke arahku.
Hem.. anda belum beruntung, coba lagi.” Aku mencoba berseloroh.
“Aku sudah capek, Fer. Aku gagal.”
Heh.. jangan bilang gagal. Anggap saja itu ‘penemuan’.”
Fauzi menarik alisnya hingga hampir bertautan. “Penemuan?”
“Ya, jadikan itu sebuah penemuan, sebuah penemuan ‘cara yang salah’. Bukankah seorang penemu tak pernah langsung berhasil dalam percobaannya? Mereka juga pernah gagal, tapi mereka menganggap kegagalan mereka adalah penemuan ‘cara yang salah’, bukan penemuan ‘kegagalan’.”
Fauzi termenung menatapku.
“Kerasukan jin dari mana kamu sampai bisa berfilsafat seperti itu?” kata Fauzi disusul tawa lepas yang mengguncang kedua bahunya. Ku pikir dia akan melontarkan kata-kata penuh kebanggaan karena  mempunyai sahabat sepertiku yang bisa berpikiran seperti itu.
 ddrrrtt... ddrrrttt... ddrrrttt...” tiba-tiba ponselku bergetar di dalam tas. Sesaat kemudian aku juga melihat Fauzi kembali menatap layar ponselnya.
From: Zul
INFO PENTING dari dekanat: beasiswa bln ini beku. Dana dr pmrintah trhmbat. Sabar ya kawan-kawan... L
Apa?! ya Tuhan.. apa ini?. Aku segera melihat  ke arah Fauzi yang juga terlihat kacau. Sepertinya dia juga mendapat sms yang sama denganku. Kemudian aku membuka ransel dan mencari dompet. Hanya tinggal selembar uang beraksen merah dengan angka satu dan empat angka nol di belakangnya. Aku menatap Fauzi sambil berharap dia punya nominal yang lebih. Ternyata jauh panggang dari api. Tampang Fauzi terlihat konyol dengan selembar uang lima ribu rupiah yang ia jepit diantara telunjuk dan ibu jarinya.
“sekarang tanggal berapa?”
mmm.. tanggal tu..juh, Fer.” Jawab Fauzi sanksi.
“tujuh, sekarang bulan januari, berarti...” aku diam sejenak berusaha membayangkan angka-angka.
“dua puluh tiga hari ke depan kita makan apa?” kataku panik
“salah, dodol. Tiga puluh satu dikurangi tujuh itu ada dua puluh empat.” Koreksi Fauzi sambil menyangga kepalanya.
hah..?!” aku hanya bisa menepuk keningku, mencoba menerawang apa yang bisa kami lakukan dengan uang lima belas ribu rupiah selama dua puluh empat hari.
Mataharipun menutup hari yang lelah dengan senyum penuh kebanggaan.
>>> 
Siang ini matahari terasa begitu dekat dengan bumi. Inikah yang disebut titik terdekat bumi dengan matahari seperti yang dijelaskan Pak Nyoto di akhir perkuliahan tadi? Entahlah.
“Miris. Beasiswa tak turun. Uang tak ada.” Ucapku sambil menghapus peluh yang mulai membasahi baju biruku.
“Yang penting masih diberi kesempatan hidup.” Kata Fauzi yang berada beberapa langkah di depanku sambil menghindari sengatan matahari. Dari kejauhan pantulan sinarnya menerpa badan-badan besi yang berlarian. Aspal jalanan itu terlihat berkeringat. Angin siang yang kering sesekali menggoyang dedaunan, sedikit mengusir panas tubuh.
“Malang sekali nasib kita. Mau minta kiriman dari orang rumah, tapi...” langkahku terhenti saat aku hampir menubruk Fauzi yang tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadapku.
“Masih banyak yang tidak beruntung dari kita, jangan memandang keputusan Tuhan sebagai ketidakadilan, anggaplah itu jalan berbatu yang akan mengantarkan kita ke tamanNYA yang paling indah.” Ujarnya sedikit kesal dengan nada yang sedikit tinggi.
Ya, aku memang terlalu banyak mengeluh. Tak seperti Fauzi. Aku tahu keluarganya cukup berada, tapi dia tidak pernah menggantungkan semuanya pada orangtua. Bisa saja dia telfon ke rumahnya sekarang dan meminta kiriman uang, pasti secara otomatis rekeningnya akan langsung terisi berdigit-digit angka nol. Namun kenyataannya sekarang dia bersamaku karena tak ada uang cukup untuk mengisi bensin motor, bersamaku meniti aspal yang berkeringat menuju tempat kost tercinta.
Fauzi masih berceracau, namun aku tak bisa mendengarnya. Pemandangan dari balik bahunya membuatku tak acuh akan apa yang Fauzi ucapkan. Tak jauh dari tempatku berdiri sekarang ada seorang nenek dengan beberapa renteng makanan kecil di tangan kirinya, berjalan agak tertatih menawarkan makanan kecil pada tiap orang yang ditemuinya.  Diusianya yang sudah senja bukankah seharusnya ia menikmati masa tuanya di rumah dengan tenang?. Ahh.. benar kata Fauzi. Masih banyak yang kurang beruntung daripada aku.
“Ferdi! Kamu dengerin aku nggak?!”
Sentak Fauzi membuatku kembali memperhatikannya dan memberinya isyarat untuk melihat ke belakang.
“Kue, nak?” kata nenek itu yang kini berada di belakang Fauzi. Fauzi segera berbalik dan sejenak memastikan apa yang dilihatnya.
“Kue nak?” ulang nenek itu sambil memamerkan senyum yang kian menunjukkan garis-garis tahun yang menunjukkan tak sedikit waktu yang sudah dilewatinya.
“Yang ini berapa, Nek?” Fauzi menunjuk kacang polong.
“Seribu, Nak.”
“Saya mau yang ini saja nek. Dua ya.”
Fauzi mengambil lembar terakhir uang yang menghuni dompetnya dan menyodorkannya  pada nenek. Sang nenek memeriksa uang yang ada di genggamannya, namun cukup untuk kembalian Fauzi.
“Ambil saja kembaliannya, Nek.” Ucap Fauzi mencoba memecah kebuntuan.
“Hey.. tapi..” Aku mencoba protes. Aku menatapnya dan berusaha mengingatkannya tak banyak uang yang kita punya.
“....”
“Ambil saja buat nenek.” Ulang Fauzi tak acuh padaku.
Sang nenek tersenyum, kini memamerkan giginya yang tak lagi utuh.
“Terimakasih, Nak.” Ucapnya senang sambil meraih uang lima ribuan Fauzi dan melanjutkan perjalanan menjajakan makanan kecilnya.
Fauzi membalas senyuman sang Nenek  dan kembali meniti trotoar.
“Itu tadi kan... sisa... uang... “ Aku berusaha mengimbangi langkah Fauzi.
“Anggap saja sedekah.” Jawabnya ringan tanpa beban.
“Tapi... . Lalu kita makan apa?” Ucapku mulai putus asa memikirkan aa yang sudah dilakukan Fauzi.
“Mau pinjam uang sama anak-anak yang lain pasti susah karena sekarang ini sedang banyak-banyaknya pengeluaran.” Lanjutku.
Fauzi tiba-tiba berhenti dan kini tertinggal beberapa langkah di belakangku.
“Kamu mau cara instan dapat uang?”
>>> 
“Mas! Es jeruknya dua.”
“Mie ayamnya mana mas?”
Hem.. di sinilah kami sekarang. Warung mie ayam Pak Leo, tempat favorite kami saat perut tak mau lagi kompromi menunggu untuk diisi. Namun sekarang bukan sebagai pelanggan, melainkan sebagai pekerja honorer yang mengharapkan rupiah membayar tiap peluh yang tercecer.
Malam ini cukup ramai. Hampir semua kursi terisi penuh. Meski hanya warung kecil namun kelezatan mie ayam Pak Leo tak kalah dengan kedai-kedai mie yang banyak berceceran di kota Jember ini. Pelanggan terakhir yang beruntung mendapatkan kursi terakhir cukup membuatku tersentak dan refleks mencari Fauzi yang ternyata juga sudah menyadari kehadiran sosok itu.
“Mau pesan apa, Mbak?”
“Mie ayamnya, du...a. Lho, Ferdi! Ngapain di sini?” Ucap sosok yang bernama Sandra itu riang sambil menunjukku.
“Yaa.. biasalah kerja sambilannya coverboy.” Aku nyengir.
“Coverboy apaan? Majalah yaasin yah?” Balasnya berseloroh.
Aiihh... Emangnya aku sudah almarhum?. Cuma datang berdua, nih?”
“Iya, cuma sama Putra.”
Aku melihat Putra yang juga teman sekampus memamerkan senyumnya yang kata anak-anak mirip Kim Hyun Joong. Memang mirip, tapi hanya senyumnya.
Sandra terlihat mencari-cari seseorang.
“Fauzi juga kerja di sini?” Tanyanya kemudian.
“Iya. Kenapa?”
“Yaa.. nggak apa-apa. Kan kalian sering bareng.”
“wah.. jadi ngobrol. Aku siapin dulu ya pesanannya.”
>>> 
“Kamu lihat sendiri kan tadi dia datang sama siapa” Ucap Fauzi uring-uringan.
“Meskipun datang berdua tapi kan itu belum bisa mengartikan apa-apa.”
“Sudahlah, aku menyerah soal Sandra, Fer. Dia memang lebih pantas dengan Putra.”
“Kenapa kamu selalu menunggu dan tak pernah menyatakan langsung perasaanmu? Kenapa? Kamu takut ditolak? Resiko, Zi. Itu resiko!!”
“Dia memang lebih pantas dengan Putra.”
“Atas dasar apa kamu bilang seperti itu?. Mana Fauzi yang selama ini ku kenal? Yang selalu memperjuangkan mimpinya? Mana?!”
“Mungkin sudah mati.” Ucapnya terduduk di ujung ranjangnya.
“Apa?” dasar, aku paling benci Fauzi yang seperti ini.
“Mimpiku terlalu muluk, Fer. Cerpenku juga tak kunjung dimuat di majalah, dari pihak penerbit novel juga tak memberi respon positif. Mungkin memang jalan mimpiku salah.”
“Kenapa kamu jadi takut dengan mimpimu sendiri? Kenapa kamu nggak langsung datang ke penerbit saja untuk mempromosikan cerpen-cerpenmu? Kenapa Cuma mengandalkan e-mail dan pos?”
Fauzi hanya menunduk tak berkomentar.
“Sudahlah. Terserah.”
Aku keluar membanting pintu kamar Fauzi.
>>> 
Mestinya aku tidak marah seperti tadi malam pada Fauzi. Itukan haknya untuk memilih. Aku harus minta maaf padanya. Aku membuka pintu kamar dan berjalan menuju pintu kamar Fauzi yang tepat berada di depan kamarku.
“Pos!! Pos!!”
Aku mengurungkan niatku mengetuk pintu kamar Fauzi saat mendengar suara itu. Akupun memutar arah menuju pintu utama dan membukanya. Dari balik pagar terlihat seseorang mengacung-acungkan amplop berwarna coklat.
“Pos mas.” Ucapnya.
“Untuk siapa, Pak?” kataku dari balik pagar.
“Fauzi Irfan, mas.” Jawabnya.
Untuk Fauzi? Dari siapa ya? Batinku bertanya sendiri.
Setelah menandatangani tanda terima aku segera masuk kembali ke kost untuk menunjukkannya pada Fauzi.
Beberapa kali aku mengetuk pintu kamarnya namun tak ada jawaban. Aku mencoba membuka pintunya dan ternyata pintunya tak terkunci.
“Zi, ada... Lho, kemana dia?”
Aku tak menemukan sosok yang sudah ku kenal selama dua tahun itu. Aku berlari ke kamar mandi namun sekali lagi aku tak menemukannya.
“Tadi Mas Fauzi sudah pergi sekitar jam delapan mas.” Kata Rizal, juniorku di kampus.
“Kemana?”
Rizal mengangkat bahunya menunjukkan ketidak tahuannya.
Aku masih memandang amplop coklat yang ku pegang, pengirimnya PenaPress. Aku mengerutkan dahi saat mencoba membuka dan membaca isinya. Aku tersenyum dan hampir meloncat seketika saat aku tahu isi surat itu. Kumpulan cerpen Fauzi lolos dan siap diterbitkan.
Aku segera mengganti baju dan keluar mencari Fauzi sambil membawa surat itu.
“Ferdi!”
Aku berhenti dan mencari sumber suara yang sudah tak asing itu. Gadis yang sudah ku kenal berlari-lari kecil ke arahku.
“Mau kemana?”
“Mencari Fauzi.” Jawabku singkat.
“Oh.. memang dia kemana?”
“Kalau aku tahu aku tidak mungkin mencarinya.”
“Coba di telfon dulu.”
“Sudah, tapi nggak diangkat. Kami sempat bertengkar semalam. Mungkin dia pergi ke tempat penerbit, aku mau ke sana.”
“Mmm.. mau nggak aku temenin nyari Fauzi? Ada yang mau aku bicarakan.”
>>> 
“Apa? Jadi kamu...”
“Ya. Aku selalu menunggu kata cinta darinya. Tapi sampai sekarang aku tak pernah mendengarnya. Bahkan ku pikir Fauzi membenciku.”
“Lalu, Putra?”
“Dia cuma sahabatku, tetangga di kampung halaman. Aku minta bantuan Putra untuk membuat Fauzi cemburu, karena... aku selalu cemburu tiap kali melihatnya dengan wanita lain.” Sandra tertunduk diujung pengakuannya.
“Kamu pasti kaget kalau tahu betapa Fauzi juga mencintaimu.”
Sandra menghentikan langkahnya. Aku melihat garis bening di ujung matanya, dan tersenyum penuh keharuan.  Kemudian OST iklan Pocariswe** terdengar. Terlihat Sandra mencari-cari ponselnya.
“iya, halo.. apa?.. Fa.. Fauzi..? dimana..?”
Sandra terlihat kacau dan limbung.
“Kenapa, San?” aku mencoba menenangkan diriku sendiri berusaha mengusir pikiran-pikiran buruk yang mulai bermunculan di otakku.
“Fer.. Fauzi..”
“Kenapa? Fauzi kenapa?”
>>> 
Pikiran buruk di otakku menjelma nyata. Di sinilah aku sekarang, di depan pintu bercat putih bertuliskan ICU. Jantungku masih berdetak tak karuan setelah mendengar berita Fauzi tertabrak mobil. Mestinya tadi malam aku tak menyuruhnya datang ke penerbit. Kalau sampai hal buruk terjadi padanya, pasti akulah orang yang paling menyesal dengan semua ini. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Tak lama kemudian pintu ICU terbuka. Orang-orang berbaju putih keluar dengan wajah muram, salah satu di antara mereka menepuk bahuku mencoba memberi ketenangan pada jantungku yang berdetak semakin tak karuan. Nggak.. ini nggak mungkin terjadi, ini hanya mimpi buruk dan aku pasti akan terbangun setelah ini. Tapi aku tak kunjung terbangun juga sampai beberapa orang keluar lagi sambil mendorong dan menarik ranjang berisi tubuh yang seluruhnya sudah ditutupi selimut putih. Tuhan.. kenapa ini terjadi di saat semuanya menjadi indah?.
“Zi.. kumpulan cerpenmu mau diterbitin tapi kenapa kamu malah pergi? Mimpimu jadi kenyataan,Zii, tapi kenapa kamu malah pergi.?” batinku sambil menatap amplop yang masih ku genggam. Aku melihat Sandra yang kemudian menghambur ke arahku. Menggenggam lenganku dan terus menangis di bahuku. Kalau boleh aku memutar waktu, aku akan menarik kata-kataku semalam, aku tidak akan menyuruh Fauzi ke penerbit kalau akhirnya seperti ini.
“Ferdi.. “
Aku masih bisa mendengar jelas suaramu, Zi. Tapi kenapa kamu tega ninggalin dunia ini.
“Sandra..”
Sekarang kamu juga memanggil Sandra, aku membawa kabar gembira untukmu, Zi. Pasti kamu juga senang kalau tahu bahwa Sandra juga sangat menyukaimu, tapi.. kenapa kamu pergi?
“Hey...! kalian berdua kenapa?”
Aku dan Sandra berbalik bersamaan.
“FAUZI?!!” teriak Sandra.
 “Kamu masih hidup?” ucap Sandra yang kini sudah berada di dekat Fauzi.
Aku mendekati mereka berdua dan mencoba mencubit pipi Fauzi untuk memastikan kalau yang ada dihadapanku sekarang benar-benar Fauzi, bukan ‘Fauzi’.
            “Kamu beneran Fauzi?” pekikku. “Kalau kamu Fauzi, lalu yang tadi...” aku menoleh lagi ke belakang dan melihat adegan mengharukan, di mana segerombolan orang menangis di dekat ranjang yang beberapa saat yang lalu ku kira berisi Fauzi.
“Waktu aku dibawa ke sini tadi memang ada yang mengalami nasib sama denganku, namun keadaannya jauh lebih parah dariku.”
Aku limbung, terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit. Tak bisa lagi mendengar apa lagi yang dikatakan Fauzi maupun Sandra yang kemudian asyik dengan dunia yang tiba-tiba serasa milik berdua. Aku hanya bersyukur ternyara Tuhan tak memanggil Fauzi untuk kembali ke sisiNYA. Aku terus bersyukur masih ada sahabat yang akan selalu mengingatkanku untuk mengejar dan mewujudkan mimpi, meski jalannya tak mudah.
 Kenapa hidup itu disebut hidup? Kenapa cinta itu disebut cinta?  Jika sudah terpojok puluhan, ratusan, bahkan ribuan pertanyaan serupa, maka aku akan semakin terkapar dan terseok  karena terbentur logika. Sama halnya ketika ditanya: untuk apa kita hidup dan apa yang sudah kita lakukan dalam hidup, apakah bermanfaat?. Entahlah, saat ini.. aku hanya bisa bermimpi dan berusaha menjadikannya nyata. Tuhan memang satu-satunya di dunia ini yang tidak perlu berkompromi untuk memutuskan sesuatu, tapi aku akan selalu mengajak Tuhan berkompromi dengan doa yang tak pernah henti ku ucap.

Inspired by:
Meraih mimpi (J-rocks)

Chears
-mail^^-

2 komentar: